Menu

Mode Gelap
 

News · 18 Feb 2020 00:25 WITA ·

Maut Hitam


 Maut Hitam Perbesar

Oleh KARTIKA NUR RAHMAN

Tujuh puluh lima juta hingga dua ratus juta manusia harus meregang nyawa. Kulit mereka berubah menghitam. Dalam hitungan hari, maut mendatangi mereka tanpa ampun.

Manusia mungkin sudah lupa dengan kejadian tahun 1347-1351. Sebuah wabah pandemi luar biasa menyebar di seluruh dataran Eropa dan sebagian Asia Afrika. Eropa mengalami kehancuran paling besar dibandingkan wilayah lainnya. Antara sepertiga hingga dua pertiga penduduknya mati. Baru beberapa abad kemudian jumlah penduduknya kembali seperti semula.

Masyhur diketahui wabah penyakit ini disebabkan oleh sejenis bakteri bernama Yersinia Pestis. Bakteri ini mampu hidup dalam kondisi dengan atau tanpa oksigen dan banyak terdapat di binatang tikus. Jika bakteri ini menyerang manusia, ia dapat mengakibatkan pendarahan dalam tubuh. Pendarahan inilah yang membuat kulit penderita menjadi menghitam. Kita menyebutnya sebagai penyakit pes.

Wabah besar ini dimulai dari kawasan stepa di Asia tengah. Dipindahkan oleh tikus dan kutu yang terbawa arus manusia -pedagang dan tentara Mongol- yang melalui jalur Sutera. Dilaporkan pertama kali memasuki Eropa melalui Krimea. Dari Krimea, penyakit ini memasuki pulau Sisilia oleh para pelaut Genoa. Begitu masuk Sisilia, segera saja wabah ini menyebar ke seluruh Eropa.

Dalam waktu delapan bulan sejak bulan Oktober 1347 saat penyakit ini dilaporkan masuk Sisilia, satu demi satu kota di Eropa terinfeksi. Pada bulan Januari 1348 Venezia, Genoa dan kota-kota di Italia lainnya sudah terkena wabah ini. Di Akhir Januari penyakit ini bahkan sudah memasuki wilayah Marseille Prancis. Wabah kemudian terus menyebar hingga Portugal, Jerman dan negara-negara Skandinavia. Penyakit ini bahkan menyeberang ke Inggris dan Skotlandia pada bulan Juni 1348. Tahun 1951 penyakit ini akhirnya dilaporkan telah memasuki wilayah Rusia.

Kota-kota kehilangan penduduknya dalam jumlah besar tanpa tahu bagaimana cara melawannya. Di Paris separuh populasi penduduknya mati. Enam puluh persen penduduk Florence mati dan menyisakan lima puluh ribu orang yang bertahan hidup. Lebih dari enam puluh ribu penduduk London mati dalam periode tersebut. Demikian juga yang terjadi di kota-kota di Jerman dan wilayah wilayah lainnya seantero Eropa. Walaupun Eropa adalah yang paling menderita karena wabah ini, namun kota-kota di benua Asia juga terinfeksi wabah serupa. Wilayah kota-kota di China, Mesir, dan Syam termasuk yang terinfeksi wabah ini.

Maut Hitam bukanlah wabah pandemi satu-satunya di bumi ini. Wabah pertama yang sudah dicatat sejarah berlangsung antara tahun 541 – 750 yang disebut sebagai wabah Justinian. Wabah yang sama penyebabnya dengan maut hitam ini diperkirakan menyebar pertama kali dari Mesir. Dari sini kemudian menyebar ke wilayah-wilayah kekuasaan Bizantium dan kerajaan-kerajaan lainnya. Sekitar lima puluh juta orang diperkirakan mati , setara dengan kurang lebih dua puluh persen penduduk bumi waktu itu.

Setelah Wabah Justinian hilang, barulah muncul wabah Maut Hitam dengan skala kerusakan yang lebih besar. Wabah penyakit yang sama kembali muncul dari provinsi Yunnan China pada tahun 1855, dan baru berakhir pada tahun 1960. Lebih dari dua belas juta orang mati, terutama yang paling banyak di India dan China.

Wabah pandemi penyakit pes juga bukan satu-satunya wabah yang pernah terjadi di bumi ini. Pada awal abad dua puluh terjadi pandemi influenza di seluruh dunia. Dimulai pada bulan Maret 1918 hingga bulan Juni 1920, wabah yang juga sering disebut flu Spanyol ini telah mengakibatkan kematian lebih dari lima puluh juta orang di seluruh dunia. Wabah ini bermula dari Amerika Serikat dan segera menyebar di banyak kota di seluruh dunia termasuk Hindia Belanda. Di Hindia Belanda menurut catatan arsip kolonial, penyakit ini masuk melalui pantai timur Sumatera dan kemudian menyebar ke kepulauan nusantara lainnya. Tingkat kematian yang cukup tinggi mengakibatkan lebih tiga puluh ribu penduduk pulau lombok meninggal dunia, sementara di Toraja sepersepuluh penduduknya meninggal.

Hari ini kita dihadapkan dengan satu virus mematikan baru yang bernama virus korona. Virus yang pertama kali dilaporkan menyerang di kota Wuhan ini adalah virus yang menyerang sistem pernafasan dan dapat mengakibatkan kematian. Saat ini sudah puluhan ribu orang terinfeksi, ribuan orang meninggal dan menyebar di beberapa negara.

Sampai saat ini belum diketahui bagaimana cara menyembuhkan orang yang terkena virus ini. Negara-negara mulai melakukan langkah-langkah antisipasi secara global untuk mencegah penyebaran virus ini. Kembali manusia harus menghadapi penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup mereka.

Dalam sejarah penanganan pandemi penyakit tidak jarang terjadi persekusi dan kerusuhan massal. Masing-masing berusaha bertahan hidup sehingga melakukan hal hal yang mereka anggap perlu untuk menggapainya. Struktur sosial, ekonomi, politik dan lingkungan bahkan berubah dalam kasus wabah maut hitam.

Hari ini di dunia yang semakin terkoneksi satu sama lain -jauh lebih terkoneksi dibanding abad-abad lampau- penyebaran penyakit tentunya lebih mudah terjadi. Penyakit bisa dengan mudah menyebar melalui cara beraneka ragam. Tidak terkecuali Indonesia yang secara geografis sangat terbuka dari arah manapun.

Jikalau saat ini belum tercatat satupun penderita korona dari Indonesia, bukan berarti Indonesia pasti bebas dan kebal dari penyakit ini. Kita harus terus waspada seraya berdoa agar virus ini tidak menjangkiti Indonesia dan dapat segera diatasi.

Satu hal yang mesti kita insafi sebagai manusia. Dalam segala macam peradaban besar, termasuk peradaban modern yang kita banggakan sekarang, dimana sebagian manusia berkeinginan menjadi Deus -dewa-, ternyata kita masih harus bertahan melangsungkan hidup melawan sesuatu yang kecil dan tak kasat mata. Seperti halnya virus korona ini.

Kewaspadaan dan keinsafan kita terhadap siapa kita ini semoga membuka pintu pada yang Maha Kuasa untuk selalu melindungi kita. Amin.


Pic 1 = pakaian dokter abad pertengahan ketika berusaha mengatasi wabah maut hitam
Pic 2 = pakaian dokter saat ini dalam mengatasi virus korona

Sumber : wikipedia dan sumber lainnya.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemprov NTB  Targetkan 24 Ribu ASN, Dalam Gelar Pekan Literasi Digital Sektor Pemerintahan

24 April 2024 - 02:49 WITA

Pj Gubernur NTB Tutup Gelegar Pesona Khazanah Ramadhan di Islamic Center

5 April 2024 - 16:08 WITA

MIM Foundation Berbagi Kebahagiaan dengan 500 Anak Yatim dalam Program Begibung Bersama Yatim, Dihadiri Walikota Mataram

1 April 2024 - 05:59 WITA

MUSDA V KAMMI, Rahmad Terpilih Jadi Ketua Umum PD KAMMI Sumbawa

18 Maret 2024 - 06:28 WITA

Menjelang Ramadhan, MIM Foundation Mendistribusikan 3800 Dus Air Mineral untuk Masjid di Nusa Tenggara Barat yang didukung oleh Bank Dinar

8 Maret 2024 - 10:37 WITA

PD KAMMI BIMA Mendesak Presiden Untuk Bersikap Netral Dalam Pilpres 2024 , Harus Menampilkan Sikap Negarawan

3 Februari 2024 - 21:06 WITA

Trending di News