
oleh Andi Mapperumah
CORONA, ERANTB.COM – Penyebaran Corona atau COVID-19 di Indonesia makin meluas. Merujuk data Kementerian Kesehatan, jumlah pasien positif per Minggu (15/3/2020) sore mencapai 117 orang. Angka ini melonjak drastis dari sebelumnya yang hanya 69 orang
Salah satu daerah yang menjadi episentrum penyebaran penyakit ini adalah DKI Jakarta. Per 12 Maret ada 17 pasien yang berasal dari ibu kota. Jakarta juga memiliki 238 pasien dalam pengawasan. 120 di antaranya masih diisolasi, sementara 118 orang telah dinyatakan sehat dan boleh pulang.
Beberapa negara, seperti Italia, Filipina dan Arab Saudi, telah menerapkan kebijakan lockdown. Hal itu dilakukan guna mengurangi penyebaran kasus virus corona atau Covid-19 di negara mereka.
Berdasarkan kamus Bahasa Inggris, lockdown artinya kuncian. Dalam konteks kasus ini maksudnya adalah negara yang terinfeksi virus corona mengunci akses masuk dan keluar untuk mencegah penyebaran virus corona yang lebih luas.
Lockdown juga diikuti dengan larangan mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak orang, penutupan sekolah, hingga tempat-tempat umum. Dengan begitu, risiko penularan virus corona pada masyarakat di luar wilayah lockdown bisa berkurang.
Apa bedanya dengan isolasi dan karantina? Lockdown memiliki arti yang sama dengan isolasi, yakni pemisahan suatu hal dari hal lain atau usaha untuk memencilkan manusia dari manusia yang lain. Sementara karantina lebih menunjukkan lokasi atau tempat penampungan yakni daerah terpencil guna mencegah terjadinya penularan penyakit dan sebagainya.
Perlukan Indonesia menerapkan lockdown? Menurut mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, opsi lockdown atau isolasi kota bisa diambil untuk mencegah penyebaran yang makin masif. “Apabila makin besar, maka pilihan yang dipilih banyak negara adalah lockdown, supaya mengurangi pergerakan dari luar dan dalam,” kata JK di kantor DMI, Jenggala, Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2020).
Lockdown perlu dilakukan dengan mempertimbangkan segala risiko ekonomi bagi masyarakat. Jika lockdown diterapkan, maka pilihan yang diambil adalah lockdown terbatas pada zona tertentu yang berpotensi besar terjadi penyebaran pandemi corona secara masif.
Ada beredar model perhitungan sains- matematis penyebaran Corona andai tidak dilakukan lockdown. Angkanya mencapai 76 ribu kasus pada 1 April 2020. Dahsyat sekali! Akurasinya tentu masih perlu divalidasi. Tapi ini penting sebagai gambaran. China sebagai tempat asal virus corona berhasil menyembuhkan 50% lebih pasien dan memperlambat penyebaran virus corona karena menerapkan lockdown, meski tentu tak bisa mencegahnya 100 persen.
Semua keputusan pasti menimbulkan risiko. Tetapi soal nyawa tidak ada rumus untung rugi. Perlindungan dan keselamatan warga negara tak bisa diperjudikan dengan apapun.






















