Menu

Mode Gelap
 

News · 3 Okt 2021 17:39 WITA ·

Teologi Al-Maun: Pertontonkan Kemiskinan Tanpa Keberpihakan Studi Kasus Sirajuddin dan Sucipto


 Teologi Al-Maun: Pertontonkan Kemiskinan Tanpa Keberpihakan Studi Kasus Sirajuddin dan Sucipto Perbesar

Penulis : Rusdianto Samawa


ERANTB.COM – Hari itu, hari cerah matahari. Suasana sore seiring matahari terus bergerak ke barat. Dari masa ke masa, kehidupan manusia saling belakangi. Bukan punggungi. Melihat rumah mungil Sirajuddin Nawawi Desa Bantulanteh, berukuran 4×6 meter. Harus katakan dengan rendah hati dan kemirisan jiwa melihat gubuk dan isinya penuh keprihatinan batin.

Pojok kanan, ember warna hijau menyapa. Isinya kayu-kayu. Tengok sebelah kiri, deretan kasur tipisnya penuh kain kotor tak terurus. Diposisi depan dalam rumah, terdapat pernak pernik baju, celana dan lemari kecil. Kasur berwarna merah kusam bau amis menyengat. Disitulah tempat berbaring, tidur dan istirahat seorang diri Sirajuddin Nawawi.

Heran, berkali – kali nyatakan heran kepada tetangga dan lingkungan sekitar, bahwa Sirajuddin Nawawi beberapa tahun belakangan tidak pernah sakit. Walaupun sejorok itu tempat tidur dan istirahatnya setiap hari.

Latar belakang kehidupan Sirajuddin Nawawi, sejak muda bisa dikatakan Tuan Tanah. Kekayaannya melampaui orang lain. Kedua orangtuanya banyak menghibahkan tanahnya untuk kepentingan pendidikan dan Masjid. Tanah, tempat bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bantulanteh berasal dari tanah yang dihibahkan oleh seorang Nawawi, bapak dari Sirajuddin Nawawi. Begitu pun, masjid Desa Bantulanteh juga dihibahkan oleh Nawawi.

Secara mendasar dan artikulatif kedua orangtua Sirajuddin itu sudah mengabdi pada masyarakat, bangsa dan negara. Namun, sungguh dunia terbalik. Faktanya, Sirajuddin jauh dari kesejahteraan. Dalam perjalanan, pernah hijrah ke Jakarta mencari rejeki dan nafkah untuk keluarganya.

Perjalanan hidup, memang rahasia Tuhan. Tanpa bisa diprediksi seperti survei – survei angka matematika politik. Tetapi, perlu menjadi wacana Iqranisasi (bacaan) analisis dalam membuka tabir problematika kemiskinan. Tak ada orang miskin tanpa usaha. Tak ada orang kaya tanpa berusaha. Semua peristiwa terjadi selalu ada proses sebab akibat.

Ingat spirit pembebasan dan kemerdekaan, populer dalam Teologi al-Ma’un yang meminta seluruh manusia saling mengerti, tolong menolong dan gotong royong dalam kebaikan sehingga rasa pemihakan kepada kaum miskin, telantar, tertindas, terpinggirkan, dan kepada anak yatim yang jumlahnya cukup masif sampai sekarang ini.

Risalah teologis, bisa bangkitkan kesadaran harakah (gerakan bertindak) yang komprehensif tentang doktrin tauhid dan pembelaan terhadap golongan tertindas dan lemah ini, baik secara sosial ekonomi maupun pendidikan.

Berkaca dari doktrin Al-Ma’un dengan realitas kemiskinan yang dialami Sirajuddin Nawawi itu, mestinya semua pimpinan bangsa ini, mulai dari RT/RW, Kadus, Kepala Desa, Bupati, Gubernur dan Presiden harus mampu memberi pertolongan atas kemiskinan dan kebodohan.

Kiai Haji Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330/18 November 1912, pernah membuat murid-muridnya bertanya-tanya keheranan saat memberi pelajaran tafsir. Ketika menafsirkan surah al-Ma’un (Alquran surah 107) secara berulang-ulang tanpa diteruskan dengan surah surah lain, Dahlan sebenarnya sedang menguji kepekaan batin para muridnya dalam memahami Alquran, apakah sekadar untuk dibaca atau langsung diamalkan.

Baru para murid itu paham bahwa Alquran tidak saja menyangkut dimensi kognitif, tetapi sekaligus sebagai pedoman bagi aksi sosial. Mulailah para murid itu mencari orang-orang miskin dan anak yatim untuk disantuni dan diperhatikan.

Begitu pula, salah seorang Ibu janda beranak satu. Hidup seperti buih. Mendaras pilu Ibu Sucipto Dusun Bonto Desa Labuhan Bontong. Meringis dan menangis melihat situasi rumahnya seperti gubuk. Mungkin kalau musim hujan. Sudah pasti tidur tidak nyenyak. Kebahagiaan bagi Ibu Sucipto jauh panggang dari api.

Penting keberpihakan tanpa batasan. Surah al-Ma’un tidak tanggung – tanggung kategorikan sebagai pendusta terhadap agama mereka yang tidak peduli atas nasib anak yatim dan orang miskin.
Islam adalah agama yang proorang miskin, tetapi sekaligus antikemiskinan, karena kemiskinan itu harus bersifat sementara. Apalagi, dari RT/RW, Kadus, Kepala Desa, Bupati, Gubernur dan Presiden dianggap berdusta kalau membiarkan kemiskinan itu hanya dilihat, tanpa tindak pembebasan.

Artikel ini telah dibaca 13 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pemprov NTB  Targetkan 24 Ribu ASN, Dalam Gelar Pekan Literasi Digital Sektor Pemerintahan

24 April 2024 - 02:49 WITA

Pj Gubernur NTB Tutup Gelegar Pesona Khazanah Ramadhan di Islamic Center

5 April 2024 - 16:08 WITA

MIM Foundation Berbagi Kebahagiaan dengan 500 Anak Yatim dalam Program Begibung Bersama Yatim, Dihadiri Walikota Mataram

1 April 2024 - 05:59 WITA

MUSDA V KAMMI, Rahmad Terpilih Jadi Ketua Umum PD KAMMI Sumbawa

18 Maret 2024 - 06:28 WITA

Menjelang Ramadhan, MIM Foundation Mendistribusikan 3800 Dus Air Mineral untuk Masjid di Nusa Tenggara Barat yang didukung oleh Bank Dinar

8 Maret 2024 - 10:37 WITA

PD KAMMI BIMA Mendesak Presiden Untuk Bersikap Netral Dalam Pilpres 2024 , Harus Menampilkan Sikap Negarawan

3 Februari 2024 - 21:06 WITA

Trending di News