ERANTB.COM- Mataram – Unjuk rasa puluhan warga pesisir dari Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, berakhir ricuh pada Senin (13/5). Massa yang menuntut kejelasan status lahan tempat tinggal mereka justru mendapat intimidasi dari kelompok tak dikenal yang diduga preman.
Aksi yang digelar di depan Kantor Wali Kota Mataram awalnya berlangsung damai. Para demonstran mengenakan pakaian hitam dan membawa spanduk bertuliskan “Wali Kota Mataram Mafia Tanah.” Mereka menuntut hak atas tanah di Kampung Bugis, tempat mereka bermukim selama puluhan tahun.
Namun, suasana berubah tegang ketika sekitar 20 orang tak dikenal muncul dan memicu keributan. Anak-anak yang turut serta dalam aksi menjadi korban; beberapa terjatuh dan menangis, sementara sejumlah warga diduga mengalami pemukulan.
“Kami datang menyampaikan aspirasi, tapi justru mendapat serangan. Anak-anak dan beberapa warga dipukul,” ungkap Supriadi, perwakilan warga. Ia menambahkan bahwa laporan resmi atas insiden itu telah dilayangkan ke Polda NTB.
Aparat kepolisian dan Satpol PP yang berjaga di lokasi dinilai lamban merespons situasi. Seorang ibu bahkan menegur keras aparat karena hanya menyaksikan kericuhan tanpa bertindak.
Misnah, salah satu peserta aksi, menolak relokasi ke Rusunawa Bintaro yang ditawarkan pemerintah. “Kami tidak mampu membayar sewa, listrik, dan air. Kami hanya ingin tetap tinggal di tanah yang sudah kami huni selama 25 tahun,” tegasnya.
Warga mendesak pemerintah memberikan solusi permanen, bukan sekadar relokasi sementara. Mereka berharap adanya keadilan atas hak atas tanah yang telah lama mereka perjuangkan.
Kasus ini menyoroti bahwa konflik agraria di kawasan pesisir Kota Mataram masih jauh dari selesai. Masyarakat berharap negara hadir untuk melindungi, bukan menekan.
























