Menu

Mode Gelap

Lingkungan · 12 Jan 2026 03:17 WITA ·

Kapal Pertamina Diduga Rusak Terumbu Karang, Abrasi Pesisir Ampenan Kian Parah


 Kapal Pertamina Diduga Rusak Terumbu Karang, Abrasi Pesisir Ampenan Kian Parah Perbesar

ERANTB.COM | Mataram- Aktivitas penambatan kapal milik PT Pertamina di perairan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga menjadi pemicu utama kerusakan terumbu karang hidup serta abrasi pesisir yang kian parah. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, abrasi di sejumlah titik pesisir Ampenan dilaporkan mencapai 1 hingga 2 meter.

Aktivis lingkungan masyarakat pesisir, Jauhari Tantowi, menyebut kapal-kapal Pertamina secara rutin menjatuhkan jangkar di atas terumbu karang hidup, bukan di area pelabuhan aktif. Aktivitas tersebut terjadi sangat dekat dengan garis pantai dan berada di wilayah tangkap nelayan tradisional.
“Dalam satu minggu bisa dua kapal Pertamina menambatkan jangkar di karang hidup. Itu bukan pelabuhan, itu pantai. Tempat nelayan biasa memancing dan mencari ikan dasar,” ujar Jauhari saat diwawancarai, Sabtu (10/1/2026).

Menurutnya, kerusakan terumbu karang berdampak langsung pada meningkatnya abrasi pantai serta menurunnya hasil tangkapan nelayan. Selain merusak ekosistem bawah laut, hantaman gelombang yang dipantulkan dari struktur dinding laut di sekitar kawasan aktivitas kapal juga mempercepat pengikisan pasir pantai.

“Abrasi paling parah terjadi di wilayah Kampung Bugis, Pondok Prasi hingga Bintaro. Dalam setahun garis pantai bisa mundur satu sampai dua meter. Ini jelas bukan semata faktor alam,” tegasnya.

Jauhari menilai aktivitas penambatan kapal tersebut mencerminkan lemahnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang ramah lingkungan, khususnya di kawasan pesisir non-pelabuhan.

Ia juga mempertanyakan fungsi pengawasan pemerintah terhadap aktivitas kapal-kapal besar di perairan tersebut.
“Secara teknis ada aturan soal jarak penambatan kapal dari garis pantai. Tapi ini terus dilanggar. Pertanyaannya, siapa yang mengawasi?” katanya.

Ia juga menyoroti minimnya dampak positif program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina bagi pemulihan lingkungan pesisir Ampenan. Menurutnya, CSR yang ada tidak menyentuh persoalan utama kerusakan ekologi.

“CSR memang ada, tapi bukan untuk memulihkan lingkungan pesisir. Setahu kami hanya bantuan pengolahan ikan untuk satu kelompok kecil, sementara kerusakan karang dan abrasi dibiarkan,” ujarnya.

Selain merusak ekosistem laut, kondisi tersebut turut merugikan nelayan kecil. Populasi ikan dasar menurun, sementara alat tangkap nelayan kerap rusak akibat lalu lintas kapal besar yang melintas dan berlabuh di sekitar area tangkap.

Hingga berita ini diterbitkan, PT Pertamina belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kerusakan terumbu karang dan abrasi pesisir Ampenan akibat aktivitas kapal mereka. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak Pertamina untuk memperoleh klarifikasi dan tanggapan resmi.

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Di Balik Aktivitas Depot Pertamina Ampenan: Nelayan Bintaro Keluhkan Jaring Rusak, Dugaan Pencemaran, dan Nihilnya CSR

8 Maret 2026 - 06:24 WITA

Empat Titik Ilegal Logging Terbongkar di Ai Beling, Satgas Sumbawa Siap Kejar Pelaku

4 Maret 2026 - 06:39 WITA

RDP DPRD Dompu Soroti Lemahnya Kinerja Dua KPH, Ketua DPRD Minta Pencopotan Kepala KPH

14 Januari 2026 - 22:43 WITA

Sambut HUT Sumbawa, Polres Sumbawa Tanam Pohon di Taman Unter Katimis

9 Januari 2026 - 22:27 WITA

SCC dan Muda Beraksi Tanam 1.000 Mangrove di Pantai Keramat Lombok Timur

29 Desember 2025 - 09:57 WITA

Pergub EPR Tak Kunjung Disahkan, Beban Sampah Produsen Terus Tekan TPA Kebun Kongok

18 Desember 2025 - 22:06 WITA

Trending di Lingkungan