ERANTB.COM | Mataram- Aktivitas penambatan kapal milik PT Pertamina di perairan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), diduga menjadi pemicu utama kerusakan terumbu karang hidup serta abrasi pesisir yang kian parah. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, abrasi di sejumlah titik pesisir Ampenan dilaporkan mencapai 1 hingga 2 meter.
Aktivis lingkungan masyarakat pesisir, Jauhari Tantowi, menyebut kapal-kapal Pertamina secara rutin menjatuhkan jangkar di atas terumbu karang hidup, bukan di area pelabuhan aktif. Aktivitas tersebut terjadi sangat dekat dengan garis pantai dan berada di wilayah tangkap nelayan tradisional.
“Dalam satu minggu bisa dua kapal Pertamina menambatkan jangkar di karang hidup. Itu bukan pelabuhan, itu pantai. Tempat nelayan biasa memancing dan mencari ikan dasar,” ujar Jauhari saat diwawancarai, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, kerusakan terumbu karang berdampak langsung pada meningkatnya abrasi pantai serta menurunnya hasil tangkapan nelayan. Selain merusak ekosistem bawah laut, hantaman gelombang yang dipantulkan dari struktur dinding laut di sekitar kawasan aktivitas kapal juga mempercepat pengikisan pasir pantai.
“Abrasi paling parah terjadi di wilayah Kampung Bugis, Pondok Prasi hingga Bintaro. Dalam setahun garis pantai bisa mundur satu sampai dua meter. Ini jelas bukan semata faktor alam,” tegasnya.
Jauhari menilai aktivitas penambatan kapal tersebut mencerminkan lemahnya penerapan standar operasional prosedur (SOP) yang ramah lingkungan, khususnya di kawasan pesisir non-pelabuhan.
Ia juga mempertanyakan fungsi pengawasan pemerintah terhadap aktivitas kapal-kapal besar di perairan tersebut.
“Secara teknis ada aturan soal jarak penambatan kapal dari garis pantai. Tapi ini terus dilanggar. Pertanyaannya, siapa yang mengawasi?” katanya.
Ia juga menyoroti minimnya dampak positif program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina bagi pemulihan lingkungan pesisir Ampenan. Menurutnya, CSR yang ada tidak menyentuh persoalan utama kerusakan ekologi.
“CSR memang ada, tapi bukan untuk memulihkan lingkungan pesisir. Setahu kami hanya bantuan pengolahan ikan untuk satu kelompok kecil, sementara kerusakan karang dan abrasi dibiarkan,” ujarnya.
Selain merusak ekosistem laut, kondisi tersebut turut merugikan nelayan kecil. Populasi ikan dasar menurun, sementara alat tangkap nelayan kerap rusak akibat lalu lintas kapal besar yang melintas dan berlabuh di sekitar area tangkap.
Hingga berita ini diterbitkan, PT Pertamina belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan kerusakan terumbu karang dan abrasi pesisir Ampenan akibat aktivitas kapal mereka. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak Pertamina untuk memperoleh klarifikasi dan tanggapan resmi.

























