Gambar Ilustrasi
Mataram, ERANTB.COM – Nelayan di pesisir Bintaro, Ampenan, Kota Mataram, mengeluhkan berbagai dampak yang mereka rasakan akibat aktivitas kapal tanker di sekitar depot PT Pertamina (Persero). Keluhan tersebut meliputi kerusakan alat tangkap, dugaan kerusakan terumbu karang, hingga minimnya program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dirasakan masyarakat pesisir.
Seorang nelayan setempat yang ditemui di pesisir Ampenan, Jumat (6/3), menuturkan aktivitas keluar masuk kapal di kawasan depot dinilai sering mengganggu aktivitas melaut. Kapal tanker yang melintas disebut kerap tidak memberikan pemberitahuan kepada nelayan yang sedang memasang jaring.
Kalau kapal sudah selesai bongkar muat, mereka bebas keluar masuk. Kadang tidak ada pemberitahuan. Pernah jaring nelayan ditabrak kapal yang keluar dari depot,” ujar nelayan tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menurutnya, persoalan tersebut sempat disampaikan kepada pihak perusahaan. Namun hingga kini belum ada kejelasan mengenai mekanisme ganti rugi atas kerusakan alat tangkap nelayan maupun langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Waktu itu kami menanyakan ke pihak Pertamina. Katanya tergantung keputusan kapten kapal apakah ada ganti rugi atau tidak. Sampai sekarang juga belum ada kejelasan,” katanya.
Selain kerusakan jaring, nelayan juga menyoroti dugaan kerusakan ekosistem laut di sekitar lokasi penambatan kapal. Mereka menilai aktivitas penurunan jangkar kapal berpotensi merusak terumbu karang yang selama ini menjadi habitat ikan.
Kerusakan terumbu karang tersebut dinilai tidak hanya berdampak pada menurunnya hasil tangkapan nelayan, tetapi juga mempengaruhi kondisi gelombang laut di kawasan pesisir.
Kalau terumbu karang rusak, gelombang jadi langsung menghantam pantai. Itu yang kami rasakan sekarang,” ujarnya.
Nelayan juga mengaku kerap melihat lapisan minyak tipis di permukaan laut saat kapal-kapal tanker beraktivitas di jalur perairan sekitar depot.
Kadang terlihat seperti pelangi di permukaan air, seperti ada minyaknya. Kami tidak tahu pasti dari kapal yang mana, tapi sering terlihat di sekitar jalur kapal,” kata nelayan tersebut.
Di sisi lain, masyarakat pesisir menilai keberadaan depot Pertamina di kawasan Ampenan belum memberikan manfaat langsung bagi nelayan.
Hingga saat ini, mereka mengaku belum pernah menerima bantuan program CSR yang menyasar peningkatan kesejahteraan nelayan, seperti bantuan perahu, alat tangkap, maupun program pendidikan bagi keluarga nelayan.
“Sampai sekarang kami belum pernah dengar ada bantuan untuk nelayan di sini,” ujarnya.
Keluhan nelayan ini menambah sorotan terhadap aktivitas depot Pertamina di kawasan Ampenan. Sebelumnya, masyarakat juga mengutip hasil penelitian akademik dari Universitas Brawijaya Malang berjudul “Analisis Perubahan Garis Pantai: Studi Kasus di Pantai Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.”
Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa terjadi kemunduran garis pantai atau abrasi rata-rata sekitar 2,03 meter per tahun. Peneliti menilai kondisi tersebut menunjukkan adanya faktor ekologis yang perlu dicermati secara serius.
Menurut Tantowi, perubahan tersebut diduga berkaitan dengan perubahan fungsi alami pesisir dan terumbu karang setelah adanya aktivitas depot serta penambatan jangkar kapal di kawasan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak depot PT Pertamina (Persero) Ampenan belum memberikan tanggapan resmi terkait berbagai keluhan yang disampaikan masyarakat nelayan. Redaksi masih berupaya menghubungi pihak perusahaan untuk memperoleh klarifikasi.

























