Mataram, ERANTB.COM – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam diajak untuk menyambutnya dengan penuh kebahagiaan sekaligus mempersiapkan diri meningkatkan kualitas ibadah. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. TGH. Lalu Fattimura Farhan, M.HI dalam tausiyah Tarhib Ramadhan yang menekankan pentingnya kesiapan spiritual, akhlak, dan kepedulian sosial sebelum memasuki bulan penuh berkah tersebut.
Dalam penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa sejak zaman Rasulullah SAW, kabar kedatangan Ramadhan selalu disampaikan dengan penuh kegembiraan. Rasulullah bahkan mendatangi para sahabatnya untuk menyampaikan bahwa bulan mulia segera tiba, sekaligus mengajak umat memperbanyak amal saleh.
Di bulan Ramadhan, amalan sunnah bernilai seperti amalan wajib, dan amalan wajib dilipatgandakan hingga 70 kali lipat. Karena itu, Ramadhan adalah momentum besar untuk memperbanyak ibadah dan memperbaiki diri,” ujarnya.
Puasa Latih Kesabaran dan Ketakwaan
Ia menjelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan latihan menahan diri secara menyeluruh, termasuk menjaga lisan, pandangan, pendengaran, dan hati dari hal-hal yang merusak. Puasa juga menjadi sarana membentuk kesabaran, kejujuran, dan tanggung jawab.
Mengutip QS. Al-Baqarah ayat 183, ia menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Menurutnya, puasa membantu manusia menekan hawa nafsu dan menguatkan nilai kebaikan dalam diri.
Sebanyak apa pun persoalan hidup, jika kita bersabar, Allah akan menggantinya dengan kemudahan demi kemudahan,” katanya.
Puasa Perkuat Empati Sosial
Selain aspek spiritual, puasa juga memiliki dampak sosial yang besar. Ramadhan mengajarkan umat untuk merasakan penderitaan fakir miskin dan menumbuhkan semangat berbagi melalui sedekah dan kepedulian sosial.
Ia menambahkan, puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang wajib bagi setiap Muslim yang memenuhi syarat. Namun, Islam juga memberikan keringanan (rukhsah) bagi mereka yang memiliki kondisi tertentu, seperti sakit, usia lanjut, atau pekerjaan berat yang berisiko bagi kesehatan.
Momentum Perubahan Diri
Mengutip pandangan Imam Hasan Al-Banna dan Yusuf Al-Qaradawi, ia menegaskan bahwa puasa adalah sarana membentuk kedisiplinan, kekuatan umat, serta memperkuat interaksi sosial yang baik. Ramadhan harus menjadi momentum perubahan diri agar menjadi pribadi yang lebih baik setelah bulan suci berlalu.
Menutup tausiyahnya, ia mengajak umat Islam memanfaatkan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.
Ramadhan adalah kesempatan besar yang belum tentu kita temui kembali. Karena itu, mari kita sambut dengan kebahagiaan, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki akhlak,” pungkasnya.

























