Menu

Mode Gelap

News · 10 Jun 2025 01:36 WITA ·

Warga Rencana Blokade Jalan Menuju Tambang, AMNT Terancam Penolakan Relaksasi dan Anjlok Saham


 Warga Rencana Blokade Jalan Menuju Tambang, AMNT Terancam Penolakan Relaksasi dan Anjlok Saham Perbesar

 

ERANTB.COM- Sumbawa Barat – Ketegangan memuncak di Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat. Warga setempat berencana melakukan aksi blokade jalan sebagai bentuk protes terhadap PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), yang dinilai mengabaikan keterlibatan tenaga kerja lokal dalam operasional tambang Batu Hijau.

Aksi ini merupakan puncak kekecewaan masyarakat atas dominasi tenaga kerja dari luar daerah yang dianggap semakin menggerus kesempatan kerja bagi warga lokal.

Blokade jalan direncanakan berlangsung di tiga titik strategis di sekitar kantor Camat Maluk. Warga menargetkan kendaraan milik perusahaan, terutama yang mengangkut karyawan non-lokal atau tidak mampu berkomunikasi dalam bahasa Sumbawa.

“Kami tidak akan beri toleransi. Karyawan yang bukan orang lokal, yang tidak bisa bahasa Sumbawa, tidak akan bisa lewat,” tegas Yuni Bourhany, koordinator aksi sekaligus aktivis Sumbawa Barat.

Menurut Yuni, ketimpangan dalam rekrutmen ini berpotensi menimbulkan dampak serius bagi keberlangsungan perusahaan, baik dari sisi reputasi, operasional, hingga aspek finansial.

“Jika pekerja lokal terus-menerus dikesampingkan, reputasi PT AMNT akan jatuh. Saham bisa menurun, dan masyarakat akan kehilangan kepercayaan. Termasuk soal relaksasi yang kini sedang diajukan perusahaan ke pemerintah pusat,” tambahnya.

Peringatan Keras dari Warga

Yuni merinci sejumlah dampak lanjutan yang mungkin terjadi akibat konflik ini, antara lain:

Penurunan nilai saham dan kepercayaan investor

Konflik sosial berkepanjangan di wilayah tambang

Gangguan terhadap distribusi logistik dan operasional tambang

Meningkatnya intervensi pemerintah daerah dan pusat

Sorotan tajam terhadap aspek sosial dan lingkungan hidup

Selain persoalan ketenagakerjaan, masyarakat juga menyuarakan keresahan terhadap dampak lingkungan dari aktivitas tambang. Mereka menyoroti kerusakan alam, pencemaran air, dan pergeseran sosial yang dianggap tidak sebanding dengan manfaat ekonomi yang diterima warga lokal.“

Kami merasa terbuang di tanah sendiri. Alam kami rusak, air kami tercemar, tapi kami tidak pernah dilibatkan dalam keputusan penting. Kami sudah cukup sabar,” ujarnya.

 

Desakan Terhadap Pemerintah Daerah

Warga mendesak pemerintah daerah agar tidak bersikap pasif dalam merespons tuntutan masyarakat. Mereka meminta perlindungan nyata terhadap hak-hak pekerja lokal dan menolak anggapan bahwa warga Maluk tidak memiliki kompetensi.

Aksi blokade ini, menurut Yuni, akan dilakukan secara damai namun dengan pesan tegas kepada PT AMNT dan pemerintah pusat.

> “Kalau AMNT tetap abai, jangan harap masyarakat akan mendukung relaksasi. Bahkan publik bisa mendorong agar izin relaksasi ditolak. Blokade ini adalah bentuk perlawanan damai, tapi pesannya sangat jelas: kami menuntut keadilan,” tutupnya.

Artikel ini telah dibaca 98 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sekda NTB Lantik 35 Pejabat Fungsional, Perkuat Birokrasi Fleksibel dan Berbasis Kinerja

14 Mei 2026 - 20:05 WITA

Dompu Dapat Puskesmas Baru, Bupati Bambang Firdaus Jemput Anggaran ke Pusat

14 Mei 2026 - 01:41 WITA

Lantik Pejabat Baru, Bupati LAZ Tekankan Integritas dan Profesionalisme

13 Mei 2026 - 23:51 WITA

NTB Perkuat Tambora Menuju Geopark Dunia, Teluk Saleh Jadi Pilar Konservasi

13 Mei 2026 - 21:55 WITA

NTB Jadi Salah Satu Daerah Tercepat Jalankan Program MBG Nasional

12 Mei 2026 - 22:10 WITA

Gubernur Targetkan Jalan Lenangguar–Lunyuk Tuntas Akhir Mei, Fokus Mitigasi Longsor

11 Mei 2026 - 10:24 WITA

Trending di News