Menu

Mode Gelap

News · 26 Apr 2026 08:39 WITA ·

Ketika Kata ‘Sayang’ Menjadi Penjaga Keutuhan Rumah Tangga


 Ketika Kata ‘Sayang’ Menjadi Penjaga Keutuhan Rumah Tangga Perbesar

Oleh: Firmansyah

ERANTB.COM – Di tengah kompleksitas persoalan rumah tangga modern dari tekanan ekonomi, kesibukan pekerjaan, hingga tantangan komunikasi sering kali kita mencari solusi yang besar dan rumit. Padahal, bisa jadi kunci keharmonisan justru terletak pada hal yang sangat sederhana: cara kita menyapa pasangan.

Bahasa, dalam relasi suami istri, bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah cermin dari perasaan, sekaligus jembatan yang menghubungkan dua hati. Sayangnya, banyak pasangan mengabaikan kekuatan bahasa dalam membangun atau justru meruntuhkan hubungan.

Kita dapat melihat dua potret rumah tangga yang kontras. Di satu sisi, ada pasangan yang tampak hangat, akrab, dan harmonis. Interaksi mereka dipenuhi sapaan lembut “sayang”, “cinta”, atau panggilan khas lainnya. Di sisi lain, ada pasangan yang komunikasi sehari-harinya terasa dingin, bahkan kasar, dipenuhi nada tinggi dan kata-kata yang menyakitkan.

Perbedaan ini bukan semata soal karakter, melainkan kebiasaan yang dibentuk dari hal-hal kecil yang dilakukan secara berulang.
Secara psikologis, panggilan sayang memiliki dampak yang tidak bisa dianggap remeh.Sapaan lembut mampu memicu rasa dihargai, dicintai, dan diakui keberadaannya.

Dalam ilmu psikologi, kondisi ini berkaitan dengan pelepasan hormon oksitosin yang berperan dalam menciptakan rasa nyaman, kedekatan, dan kebahagiaan.

Sebaliknya, komunikasi yang keras dan minim kehangatan perlahan dapat mengikis rasa saling percaya. Hubungan yang awalnya kuat bisa menjadi rapuh hanya karena kebiasaan berkomunikasi yang tidak sehat.
Lebih dari itu, bahasa sayang sejatinya adalah bentuk penghormatan. Ia bukan sekadar romantisme, melainkan pengakuan bahwa pasangan adalah sosok yang berharga. Dalam budaya timur, termasuk masyarakat Indonesia, nilai-nilai penghormatan dalam rumah tangga sangat dijunjung tinggi. Namun ironisnya, justru dalam ruang paling intim rumah tangga nilai itu sering terabaikan.

Tidak ada standar baku dalam penggunaan bahasa sayang. Setiap pasangan memiliki cara unik, dipengaruhi oleh latar belakang budaya, bahasa daerah, hingga kebiasaan personal. Yang terpenting bukan pada kata apa yang digunakan, tetapi pada makna, ketulusan, dan konsistensi dalam mengucapkannya.

Di tengah derasnya arus kehidupan modern, menjaga keharmonisan rumah tangga memang tidak mudah. Namun, bukan berarti harus selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, perubahan kecil seperti mengganti cara menyapa pasangan dapat menjadi titik awal perbaikan yang signifikan.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita memanggil pasangan dengan penuh kasih?
Sebab bisa jadi, kebahagiaan yang kita cari selama ini tidak jauh-jauh ia hanya tersembunyi dalam satu kata sederhana: sayang.

Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

KAMMI NTB : Pencalonan Miq Iqbal di KONI Jadi Momentum Konsolidasi Olahraga NTB Menuju PON 2028

16 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Herbologis Cafe Mataram Hadir Jadi Ruang Kreatif Anak Muda, dari Ngopi hingga Bangun Relasi

16 Agustus 2026 - 11:39 WITA

Jelang Hut RI, Pemkot Mataram Larang Gerak Jalan Banci hingga Main Bola Pakai Daster

15 Agustus 2026 - 16:45 WITA

Viral di Sosmed! Wisatawan Lokal Bongkar Kejanggalan Retribusi hingga Karcis Masuk Wisata Bukit Lombok Tengah

15 Agustus 2026 - 16:21 WITA

Tanam 500 Pohon, Wabup Bima Ajak Masyarakat Jaga Alam Bersama

14 Agustus 2026 - 23:40 WITA

KAMMI Lobar Apresiasi Keterbukaan Wabup Una, Dorong Kolaborasi Pemuda dalam Pembangunan

13 Agustus 2026 - 22:06 WITA

Trending di Daerah