Menu

Mode Gelap

Opini · 5 Okt 2025 15:04 WITA ·

Memaksimalkan Peran Peer Group dalam Mencegah Bullying


 Memaksimalkan Peran Peer Group dalam Mencegah Bullying Perbesar

Oleh: Ummu Salsabila Mahasiswi Universitas Tehnologi Sumbawa

 

ERANTB.COM- Opini- Bullying bukan sekadar masalah sepele antar siswa. Ia adalah luka sosial yang berdampak panjang pada perkembangan psikologis, sosial, bahkan akademik seseorang. Setiap tindakan mengejek, merendahkan, mengucilkan, atau menyakiti teman  baik secara fisik maupun verbal  dapat meninggalkan trauma yang tidak mudah sembuh. Karena itu, isu bullying harus menjadi perhatian serius semua pihak: guru, orang tua, dan terutama teman sebaya di lingkungan sekolah.

Selama ini, upaya pencegahan bullying sering kali berfokus pada peraturan sekolah, pengawasan guru, dan sosialisasi formal. Padahal, ada satu elemen penting yang kerap terlupakan: peer group, atau kelompok teman sebaya.

Peer group merupakan lingkaran sosial terdekat bagi anak remaja. Mereka tumbuh bersama, saling berbagi pengalaman, dan memiliki minat serta usia yang hampir sama. Dalam kelompok inilah, banyak nilai dan perilaku sosial terbentuk baik positif maupun negatif. Karena itu, jika dikelola dengan baik, peer group dapat menjadi kekuatan besar dalam mencegah dan menanggulangi kasus bullying.

Kelompok teman sebaya memiliki pengaruh sosial yang kuat. Saat anggota peer group menegur perilaku tidak pantas, menunjukkan empati pada korban, atau mengajak teman lain untuk tidak ikut-ikutan merundung, mereka sebenarnya sedang menciptakan norma sosial baru: bahwa bullying itu tidak keren, tidak pantas, dan tidak manusiawi.

Lebih jauh, peer group bisa berperan sebagai detektor dini. Sering kali, teman sebaya lebih cepat mengetahui jika ada rekannya yang menjadi korban atau bahkan pelaku bullying. Dengan kedekatan emosional, mereka mampu memberikan dukungan psikologis dan rasa aman yang kadang tidak bisa diberikan oleh guru atau orang tua.

Dalam konteks pendidikan, peran peer group juga menjadi ruang belajar sosial yang sangat efektif. Di sinilah nilai-nilai seperti solidaritas, toleransi, kerja sama, dan tanggung jawab dapat tumbuh alami. Ketika anak-anak terbiasa menghormati perbedaan, menolong teman yang lemah, dan menjaga perasaan sesama, maka iklim sekolah yang damai akan tercipta dengan sendirinya.

Pencegahan bullying tidak hanya soal sanksi atau kebijakan sekolah, melainkan bagaimana membangun budaya empati dan kepedulian sosial sejak dini. Dan peer group dengan kekuatan pengaruh horizontalnya  bisa menjadi ujung tombak dalam mewujudkan hal itu.

Dengan demikian, jika sekolah ingin benar-benar menekan angka bullying, maka strategi terbaik bukan hanya memperbanyak aturan, tetapi juga memperkuat kapasitas dan peran kelompok teman sebaya sebagai mitra aktif dalam menjaga lingkungan sosial yang sehat, aman, dan inklusif.

Artikel ini telah dibaca 79 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Refleksi 68 Tahun Lombok Barat: Antara Pembangunan Fisik dan Jalan Sunyi Menuju Sejahtera dari Desa

19 April 2026 - 16:36 WITA

Tak Ada Pejabat Dompu di Eselon II: Meritokrasi atau Ketimpangan Birokrasi?

13 April 2026 - 00:01 WITA

Perang Asimetris Iran, Awal Tumbangnya Rezim Preman Dunia AS IS (Banyak Pelajaran Menarik)

22 Maret 2026 - 06:28 WITA

Tekanan Ganda 2026: Krisis Lingkungan dan Ancaman Pangan Nasional

1 Januari 2026 - 21:20 WITA

Babak Baru Unram di Usia ke-63: Refleksi atas Bayang-bayang Krisis Transparansi dan Integritas

14 November 2025 - 21:29 WITA

Makna Pelukan Hangat Ayah bagi Pertumbuhan Emosional Buah Hati, Begini Kajiannya

1 November 2025 - 10:28 WITA

Trending di Opini