Menu

Mode Gelap

Opini · 14 Nov 2025 21:29 WITA ·

Babak Baru Unram di Usia ke-63: Refleksi atas Bayang-bayang Krisis Transparansi dan Integritas


 Babak Baru Unram di Usia ke-63: Refleksi atas Bayang-bayang Krisis Transparansi dan Integritas Perbesar

 

Oleh: Gumelar Fawaz

Alumni Perpajakan, Fak. Ekonomi & Bisnis Universitas Mataram

ERANTB.COM- Opini- Perayaan Dies Natalis ke-63 Universitas Mataram (Unram) kembali digelar dengan meriah. Tema yang diangkat“Berdampak untuk Negeri, Pangan Berdaulat, Generasi Kuat, Bangsa Hebat” sepintas terdengar visioner dan penuh optimisme. Namun euforia perayaan besar ini justru bertabrakan dengan kenyataan pahit: ada dua persoalan fundamental yang tengah menggerogoti kredibilitas kampus transparansi anggaran dan integritas kepemimpinan.

Perayaan ulang tahun bagi sebuah institusi pendidikan seharusnya menjadi momentum refleksi moral, bukan sekadar panggung seremoni yang membungkus berbagai persoalan yang belum selesai. Tahun ini, refleksi itu makin relevan, sebab Unram sedang berada di titik kritis.

 

*Pertama: Transparansi Anggaran Dies Natalis yang Masih Belum Terlihat*

Kegelisahan mahasiswa mengenai penggunaan dana Uang Kuliah Tunggal (UKT) dalam rangkaian Dies Natalis bukanlah isu sepele. Di tengah situasi ekonomi mahasiswa yang makin sulit, setiap rupiah yang bersumber dari UKT menjadi sangat sensitif.

Permendikbudristek Nomor 2 Tahun 2024 sudah sangat jelas: UKT hanya boleh digunakan untuk kegiatan yang berhubungan langsung dengan pembelajaran, bukan untuk seremoni. Maka wajar jika mahasiswa meminta rektorat membuka rincian anggaran Dies Natalis secara gamblang.

Kampus, sebagai lembaga publik, tidak boleh bersembunyi di balik tembok birokrasi. Transparansi anggaran bukan hanya soal administrasi, tetapi soal moralitas.

Dies Natalis ke-63 menjadi pertanyaan terbuka: Apakah kampus benar-benar patuh pada aturan, atau justru menyisakan ruang gelap yang enggan dibuka?

Karena itu, mahasiswa mendesak pihak rektorat untuk membuka secara transparan rincian anggaran Dies Natalis dan sumber pendanaannya. Dalam kondisi ekonomi banyak mahasiswa yang masih sulit, akuntabilitas keuangan menjadi hal yang tidak dapat dinegosiasi. Transparansi anggaran bukan hanya tuntutan publik, tetapi bagian dari identitas kampus yang ingin tumbuh secara etis, jujur, dan bermartabat.

“Dies Natalis ke-63 ini harus menjadi cermin, apakah Unram sudah cukup jujur dan terbuka dalam mengelola sumber daya?” tanya seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Pada akhirnya, refleksi adalah inti dari perayaan. Unram tidak hanya dituntut untuk tampil megah, tetapi juga berani menunjukkan integritas dalam setiap pengelolaan anggaran dan kebijakan publik.

“Dies Natalis harus menjadi simbol kedewasaan, bukan ajang bermegah-megahan. Kampus harus menunjukkan komitmen pada transparansi dan akuntabilitas,”

 

Kedua: Krisis Integritas dalam Proses Pemilihan Rektor

Persoalan lebih besar justru datang dari proses pemilihan rektor (Pilrek) yang tengah berlangsung. Pilrek seharusnya menjadi momen paling penting dalam siklus demokrasi kampus, tempat nilai-nilai akademik dipertahankan dan meritokrasi ditegakkan.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sanksi etik terhadap seorang guru besar FKIK yang muncul secara mendadak menjelang Pilrek memunculkan banyak tanda tanya. Apalagi ketika guru besar tersebut kemudian menggugat Surat Keputusan Rektor ke PTUN dan melapor ke Ombudsman NTB atas dugaan maladministrasi.

Tak lama setelah itu, Unram mencabut SK etik terhadap dosen FATEPA setelah gugatan dilayangkan ke PTUN sebuah langkah yang mengindikasikan ketidaksiapan prosedural sekaligus membuka ruang kecurigaan publik.

Dalam dunia kampus yang menjunjung objektivitas dan etika, pola seperti itu tidak boleh dianggap normal.

Jika integritas dalam pemilihan pemimpin saja dipertanyakan, bagaimana kampus dapat mendidik generasi yang berintegritas?

 

Unram di Persimpangan Sejarah

Di usia 63 tahun, Unram berada pada dua pilihan:
menjadi kampus modern yang transparan dan berintegritas, atau kembali tenggelam dalam pola lama yang tertutup dan sarat kepentingan.

Dies Natalis seharusnya bukan pesta yang membutakan kritik, tetapi ruang untuk melihat diri sendiri. Sebab tanpa kejujuran dan keterbukaan, semua perayaan hanyalah panggung megah yang menutupi luka-luka lama.

Krisis transparansi dan integritas yang muncul hari ini bukanlah sekadar isu teknis. Ini adalah ujian moral bagi Unram apakah benar-benar siap menjadi kampus yang berdampak, atau hanya ingin terlihat berdampak.

Universitas besar tidak diukur dari megahnya seremoni atau slogan-slogan inspiratif. Ia diukur dari cara mengelola amanah publik dan menjaga kepercayaan masyarakat.

Unram harus memilih jalannya. Dan pilihan itu harus dimulai dari sekarangdari keberanian membuka anggaran, memperbaiki tata kelola etik, serta memastikan Pilrek berlangsung bersih tanpa aroma abuse of power.

Di titik inilah, Dies Natalis ke-63 seharusnya menjadi pengingat: bahwa masa depan kampus tidak ditentukan oleh perayaan, tetapi oleh integritas.

Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Refleksi 68 Tahun Lombok Barat: Antara Pembangunan Fisik dan Jalan Sunyi Menuju Sejahtera dari Desa

19 April 2026 - 16:36 WITA

Tak Ada Pejabat Dompu di Eselon II: Meritokrasi atau Ketimpangan Birokrasi?

13 April 2026 - 00:01 WITA

Perang Asimetris Iran, Awal Tumbangnya Rezim Preman Dunia AS IS (Banyak Pelajaran Menarik)

22 Maret 2026 - 06:28 WITA

Tekanan Ganda 2026: Krisis Lingkungan dan Ancaman Pangan Nasional

1 Januari 2026 - 21:20 WITA

Makna Pelukan Hangat Ayah bagi Pertumbuhan Emosional Buah Hati, Begini Kajiannya

1 November 2025 - 10:28 WITA

Mengharmonikan Iman, Ilmu, dan Alam: Refleksi Dies Natalies UIN Mataram Menuju Kampus Cinta Berperadaban Hijau

25 Oktober 2025 - 13:25 WITA

Trending di Opini