Menu

Mode Gelap

News · 8 Feb 2020 01:14 WITA ·

Hujan Minim, Petani Was-Was


 Hujan Minim, Petani Was-Was Perbesar

Sumbawa yang biasanya di Tahun-Tahun sebelumnya memasuki musim penghujan bulan November dan Desember, namun kini hingga memasuki Bulan Februari 2020 intensitas Hujan sangat minim. Bahkan petani yang sudah menanam jagung dari bulan Desember dan Januari kini mulai garuk-garuk kepala dan khawatir karena jagung yang ditanam sudah mulai berubah warna menjadi hijau kecoklatan karena kekeringan. Disamping itu, hama ulat yang menyerang daun-daun jagung juga menambah kerisauan petani karena belum ketemu obat yang dapat menghentikan wabah.

Muhammad Fauzi, S.AP, Petani dan Tokoh Pemuda Tarano asal Tolo’oi ini kepada Era NTB menyampaikan bahwa para petani sekarang sangat khawatir dengan kondisi tanaman mereka dan disamping itu juga, untuk tanaman padi sebagian besar belum mulai dikerjakan karena kurangnya intensitas hujan yang berujung pada kurangnya ketersedian air.

M. Fauzi juga menyampaikan, pemerintah mesti turun tangan untuk melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap kegagalan panen. Misalnya dengan membantu petani dengan memberikan subsidi terhadap obat-obatan, memastikan ketersedian pupuk dan juga membantu masyarakat agar bisa mengakses asuransi pertanian sehingga meminimalisir terjadi kerugian di tingkat petani, disebabkan banyak petani yang mengambil Kredit Usaha Rakyat di Bank-Bank untuk sebagai modal.

Ditempat terpisah, Ardiansyah, Mantan Ketua Umum PW KAMMI NTB yang memilih turun menjadi petani ini juga menyampaikan tentang kondisi Tanaman Padinya mulai kering kerontang karena tidak ada hujan yang turun dan belum teraliri air irigasi. Petani yang bermukim di Desa Boak Kecamatan Untir Iwis ini juga menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah Sumbawa dan Provinsi Nusa Tenggara Barat ikut memikirkan tentang kondisi petani di NTB agar tidak gagal panen dan kerugian yang berlipat-lipat. Pemerintah mesti memafasilitasi petani dengan asuransi pertanian, kemudian dam dan bendungan yang ada agar dikeruk sehingga ketika hujan turun bendungan dapat menyimpan air dalam jumlah yang besar. Diaamping itu, pemerintah juga mesti melakukan langkah-langkah yang menyeluruh dalam mencegah ilegaloging dan perambahan hutan secara masif dan terus menerus karena akan merugikan masyarakat sendiri. Ardiansyah juga berharap pemerintah mengomandoi agar dilakukannya Shalat Istisqo di seluruh NTB untuk meminta hujan dan keberkahan di bumi NTB ini pungkasnya.

Berdasarkan pantauan Era NTB di beberapa kecamatan, bahwa sebagian besar lahan untuk jagung sudah ditanam namun kondisi tanaman banyak yang tidak tumbuh, jagung melilit dan juga rusak karena terserang wabah ulat. Namun untuk Tanah Sawah yang biasanya ditanami padi, sampai saat ini sebagian besar belum tergarap karena tidak adanya ketersedian air yang disebabkan rendahnya curah hujan, padahal jika ditahun-tahun sebelumnya di bulan Februari petani sudah pada tahapan pemindahan benih dari area pembibitan. Tak pelak kondisi ini membuat ke khawatiran di semua petani karena musim hujan kali ini tidak seperti biasanya. Kondisi suhu udara juga tidak banyak berubah ketika dibandingkan dengan musim kemarau tahun lalu yang sangat panas. Semoga hujan segera turun.

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Mahasiswi Asal KSB Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Gomong, Polisi Selidiki Penyebab Kematian

18 Mei 2026 - 20:46 WITA

Pemkab Sumbawa Dorong OPD Aktif Perbarui Website dan Media Sosial

18 Mei 2026 - 16:50 WITA

RSUP NTB Lunas dari Utang Rp91 Miliar, Fokus Benahi Pelayanan dan Tata Kelola

17 Mei 2026 - 23:04 WITA

Sengketa Tanah Warga di Sembalun Masuki Babak Akhir, Publik Soroti Dugaan Cacat Administrasi

17 Mei 2026 - 11:12 WITA

Gubernur Iqbal: Saatnya UMKM NTB Naik Kelas dan Siap Bersaing dikancah Global

15 Mei 2026 - 09:45 WITA

Sekda NTB Lantik 35 Pejabat Fungsional, Perkuat Birokrasi Fleksibel dan Berbasis Kinerja

14 Mei 2026 - 20:05 WITA

Trending di News