Sosok H. Gudfan Arif yang dinilai sebagai figur potensial pembawa visi kemandirian Nahdlatul Ulama (kiri), bersanding dengan penulis opini, Herianto, yang merupakan Tokoh Muda NU sekaligus Bendahara Umum LPNU PW NTB (kanan). (Foto: Istimewa/Era NTB)
Oleh: Herianto
(Tokoh Muda Nahdlatul Ulama / Bendum LPNU PW NTB)
“Tanamlah wujudmu di dalam bumi kesunyian. Sebab, sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak tertanam rapat di bawah tanah, buahnya tidak akan pernah sempurna.”
NUSA TENGGARA BARAT, ERANTB.COM – Gema kebijaksanaan sufi besar Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam ini seolah menjadi pelita yang mengoyak kabut pragmatisme kepemimpinan di era modern. Jika kita merenung sejenak, memejamkan mata, dan menyambungkan rasa (rabithah) kepada para muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama, kita akan menyadari satu hal fundamental: jam’iyah ini didirikan bukan dengan gemerlap ambisi, melainkan dengan cucuran air mata, riyadhoh, dan tirakat panjang Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari beserta para auliya.
Menatap masa depan NU adalah menatap wajah peradaban Nusantara. NU adalah bahtera raksasa yang urat nadinya bersenyawa dengan tegaknya sang Saka Merah Putih. Namun hari ini, ketika pusaran disrupsi teknologi dan realitas pahit ekonomi umat berbenturan dengan arus zaman, sebuah panggilan nurani dari kacamata kiai sepuh sekaligus tokoh muda mengusik kalbu: Siapa yang sanggup memegang kemudi bahtera ini dengan kejernihan visi, ketajaman manajerial, dan ketulusan hati yang membumi?
Berbicara tentang arah kepemimpinan NU ke depan, kita tidak boleh lagi sekadar terbuai oleh romantisme masa lalu. Kita dihadapkan pada realitas empiris. Oleh karena itu, gagasan tentang “Poros Penyelamat Organisasi” bukanlah sebuah narasi konfrontasi, melainkan murni jalan hikmah (kebijaksanaan). Ini adalah kesadaran kolektif untuk memastikan arah jam’iyah dipandu oleh sosok yang tidak hanya alim dalam sanad keilmuan, tetapi juga faqih (paham) dalam tata kelola kemandirian.
Dalam diskursus kepemimpinan Islam yang ideal, Al-Qur’an menancapkan fondasi yang sangat presisi melalui Surah Al-Qasas ayat 26:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيَّ الْأَمِينُ
(“Sesungguhnya sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”)
Term Al-Qawiyy (yang kuat) merepresentasikan kapabilitas manajerial, kelincahan strategis, kecakapan intelektual, dan kemandirian ekonomi. Sementara Al-Amin (yang dapat dipercaya) adalah manifestasi dari integritas, ketulusan niat, dan laku tawadhu. Dua entitas ini adalah syarat mutlak yang tidak dapat dipisahkan.
Sebagai Bendahara Umum Lembaga Perekonomian NU (LPNU) Provinsi Nusa Tenggara Barat, saya merasakan langsung denyut nadi ekonomi umat di akar rumput. Kemiskinan, ketimpangan literasi ekonomi, dan ketergantungan struktural adalah rintihan sunyi yang nyata. Kebijaksanaan tertinggi seorang nakhoda organisasi hari ini adalah ketulusannya untuk memerdekakan umat secara ekonomi. Kita butuh tata kelola yang memanusiakan dan memberdayakan, bukan sekadar janji lisan yang menguap di udara.
Dalam pencarian figur Al-Qawiyy al-Amin inilah, dorongan publik terhadap sosok H. Gudfan Arif atau yang akrab disapa Gus Gudfan menemukan momentum dan rasionalitasnya. Bagi masyarakat awam, nama beliau mungkin tidak selalu menghiasi tajuk utama. Mengapa? Karena Gus Gudfan memanifestasikan laku khumul (sunyi dari panggung publisitas).
Namun, jika kita menelisik akar kulturalnya, Gus Gudfan bukanlah sosok sembarangan. Beliau adalah dzurriyah (keturunan) ulama kharismatik KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan. Darah keulamaan dan warisan perjuangan dari garis Sunan Drajat Wali Songo yang dikenal paling depan dalam urusan pengentasan kemiskinan dan kemandirian ekonomi umat mengalir deras dalam nadinya.
Gus Gudfan adalah anomali yang indah. Ia memadukan keanggunan tradisi pesantren sepuh dengan visi CEO modern. Beliau adalah teladan nyata dari seorang pengabdi yang bergerak membesarkan jam’iyah dalam senyap. Sumbangsihnya membenahi tata kelola manajerial, membangun ekosistem ekonomi, dan menyokong kemandirian NU murni dilakukan sebagai laku khidmah tanpa pamrih. Bahasa tindakannya (lisanul hal) terbukti jauh lebih fasih dibandingkan sekadar retorika lisan (lisanul maqal).
Kehadiran sosok tulus dan berdarah pesantren seperti beliau merepresentasikan dua pilar esensial bagi Poros Penyelamat Organisasi:
Pertama, Kemandirian Ekonomi sebagai Benteng Muruah. Pemimpin yang tuntas dengan dirinya sendiri dan mandiri secara ekonomi tidak akan pernah tergoda untuk menggadaikan organisasi demi kepentingan sesaat. Kemandirian adalah wujud otonomi; ia menjaga NU agar tetap netral, berwibawa, dan merdeka menyuarakan kebenaran demi umat.
Kedua, Keteguhan Kultural di Tengah Arus Disrupsi. Pemimpin yang bijaksana adalah ia yang ketajaman manajerialnya mampu menaklukkan tantangan global, namun hatinya senantiasa menunduk takzim di hadapan kiai kampung. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah harus dibumikan menjadi program kerja yang mengentaskan kemiskinan umat.
Masa depan NU adalah masa depan Indonesia. Dari ufuk Nusa Tenggara Barat hingga ke seluruh penjuru Nusantara, generasi muda NU mengetuk pintu langit, memohon hadirnya sosok nakhoda yang memimpin dengan mata hati dan kejernihan nurani.
Dan pada sosok-sosok tulus yang membesarkan NU dalam kerja senyap, penuh dedikasi, serta menjaga muruah sanad pesantren seperti Gus Gudfan, kalbu kita melihat fajar kebangkitan itu menyingsing terang, demi kejayaan Islam, lestarinya ajaran ulama, dan tegaknya sang Saka Merah Putih.

























