Oleh: Nur Baehaqi Syamsu
Ketua Koperasi Merah Putih Desa Bagik Polak Barat
ERANTB.COM- Lombok Barat -Di tengah derasnya arus sistem ekonomi kapitalistik global yang terus menciptakan ketimpangan sosial dan ekonomi, koperasi hadir sebagai wajah demokrasi ekonomi. Ia bukan sekadar badan usaha, melainkan cermin semangat gotong royong, solidaritas, dan keadilan sosial nilai-nilai luhur yang mengakar dalam budaya bangsa Indonesia.
Koperasi: Ekonomi Berbasis Kebersamaan
Koperasi lahir dari rahim kearifan lokal. Ia bukan produk impor, melainkan tumbuh dari tanah Indonesia itu sendiri. Nilai-nilai seperti kerja sama, kekeluargaan, dan tolong-menolong menjadi roh utama gerakan koperasi. Dalam praktiknya, koperasi mendorong pemanfaatan sumber daya secara kolektif untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dengan cara yang adil dan berkelanjutan.
Ketika sistem ekonomi kapitalistik menempatkan kekuatan individu dan akumulasi modal sebagai tolok ukur keberhasilan, koperasi justru menjadikan kesejahteraan bersama sebagai tujuan utama. Ia menjadi antitesis dari sistem yang menciptakan jurang lebar antara si kaya dan si miskin.

Kemiskinan dan Solusi Koperasi
Ekonom John Sharp menyebutkan bahwa kemiskinan muncul dari tiga akar persoalan: (1) ketimpangan kepemilikan sumber daya, (2) perbedaan kualitas sumber daya manusia, dan (3) keterbatasan akses terhadap modal. Ketiga hal ini menjadi ruang gerak koperasi untuk hadir sebagai solusi nyata.
Melalui koperasi, masyarakat kecil dapat memperoleh akses permodalan, pelatihan, hingga peluang untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Koperasi memberi ruang partisipasi yang adil dalam pembangunan ekonomi.
Koperasi Merah Putih: Momentum Perubahan dari Desa
Program Koperasi Merah Putih yang dicanangkan pemerintah, meski terkesan terburu-buru, merupakan langkah strategis dan penuh harapan. Regulasi seperti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2021, serta Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 memberi dasar hukum yang kuat bagi koperasi desa untuk tumbuh menjadi penggerak utama ekonomi rakyat.
Namun, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah struktur kelembagaan yang membingungkan: koperasi dibentuk dan dikelola di tingkat desa, tetapi dicatat sebagai koperasi primer kabupaten/kota. Hal ini menimbulkan persoalan administratif dan identitas kelembagaan yang perlu segera diselesaikan.
Belajar dari Dunia: Koperasi Bukan Jalan Kuno
Indonesia bukan satu-satunya negara yang mengandalkan koperasi sebagai solusi ekonomi. Negara-negara maju seperti Korea Selatan dan Spanyol telah membuktikan keberhasilan sistem ini. Bahkan, klub sepak bola dunia seperti FC Barcelona dikelola dengan prinsip koperasi. Mereka sadar bahwa kekuatan kolektif adalah benteng paling tangguh menghadapi krisis.
Harapan dari Desa
Sebagai Ketua Koperasi Merah Putih Desa Bagik Polak Barat, saya memandang inisiatif ini sebagai tonggak perubahan yang penting. Jika dikawal dengan baik, koperasi dapat menjadi jalan pulang bagi ekonomi Indonesiakeluar dari dominasi asing dan korporasi besar, menuju kedaulatan ekonomi rakyat.
Kesejahteraan tidak harus menunggu datang dari pusat. Ia bisa dimulai dari desa, dari koperasi. Dari sinilah kemandirian ekonomi bangsa dibangun.

























