Oleh : Yudistira Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Mataram (UNRAM) Tahun 2022
Sebuah Refleksi 80 Tahun Indonesia
ERANTB.COM- Opini- Rasanya membanggakan menjadi bagian dari bangsa besar ini. Bangsa yang lahir dari keberanian, dipelihara oleh pengorbanan, dan terus berjalan dengan penuh harapan. Kita boleh berbeda bahasa, suku, agama, dan budaya, tetapi di bawah satu bendera, kita adalah keluarga besar Indonesia.
Namun, di usia ke-80 tahun kemerdekaan ini, pertanyaan besar menggema: apakah kita benar-benar sudah merdeka seutuhnya, atau sekadar merdeka di atas kertas?
Kemerdekaan di Atas Kertas
Jika merdeka dimaknai sebatas bebas dari kolonialisme, jawabannya jelas: ya. Tapi jika merdeka berarti terbebas dari kemiskinan, ketidakadilan, kebodohan, ketergantungan, dan penindasan dalam wajah baru, jawabannya: belum.
Data BPS terbaru menunjukkan sekitar 9,2% rakyat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan. Di sisi lain, jurang ketimpangan semakin melebar. Segelintir orang menguasai kekayaan nasional, sementara jutaan anak muda kesulitan mengakses pendidikan tinggi.
Angka partisipasi pendidikan tinggi kita hanya sekitar 32%, tertinggal dari Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam. Padahal pendidikan adalah kunci menuju kemerdekaan intelektual.
Demokrasi yang Meredup
Kemerdekaan juga menyangkut kebebasan bersuara. Kontroversi rencana peluncuran buku sejarah “resmi” 10 jilid—yang dituding menutup-nutupi peristiwa kelam 1965 dan Mei 1998—menunjukkan betapa rapuhnya kebebasan intelektual.
Ironisnya, di tengah upaya “penyatuan sejarah” itu, generasi muda justru melawan dengan simbol-simbol budaya populer. Viral bendera bajak laut One Piece di momen kemerdekaan menjadi sindiran terhadap elit yang dianggap serakah dan jauh dari rakyat. Itu bukan sekadar lelucon, tetapi jeritan simbolik bahwa kemerdekaan tanpa keadilan hanyalah slogan kosong.
Lingkungan yang Terlupakan
Indonesia kini dijuluki sebagai salah satu “tong sampah global” akibat impor limbah plastik bernilai ratusan juta dolar. Di berbagai daerah, tambang menggerus ruang hidup masyarakat lokal, sementara regulasi lingkungan justru dilonggarkan atas nama investasi.
Para pejuang bangsa dahulu memperjuangkan tanah air ini bukan untuk dirusak demi keuntungan sesaat. Karena itu, kedaulatan ekologis harus menjadi bagian dari makna kemerdekaan sejati.
Pangan dan Ekonomi yang Rapuh
Harga beras, jagung, hingga daging masih sering melambung tinggi akibat kartel dan impor. Rakyat kecil kembali jadi korban. Amanat Pasal 33 UUD 1945 jelas: bumi, air, dan kekayaan alam harus digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun kenyataannya, lebih sering untuk segelintir pengusaha besar.
Hilirisasi tambang dan investasi asing memang meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi, tapi pertanyaan utamanya: siapa yang paling merasakan manfaatnya—rakyat kecil atau konglomerat?
Harapan dari Generasi Muda
Meski penuh ironi, bangsa ini tetap punya harapan. Generasi muda kini menemukan cara baru untuk bersuara melalui seni, literasi digital, budaya pop, hingga gerakan lingkungan. Semangat itu membuktikan bahwa api kemerdekaan belum padam.
Merdeka Belum Selesai
80 tahun merdeka adalah usia matang. Sudah seharusnya bangsa ini lebih dewasa mengelola perbedaan, bijak mengelola sumber daya, dan berani melawan ketidakadilan.
Kemerdekaan bukan hadiah, melainkan amanah. Amanah yang harus dijaga dengan keberanian, kejujuran, dan pengorbanan. Sama seperti para pendiri bangsa yang rela mempertaruhkan nyawa demi cita-cita.
“Merdeka belum selesai. Dan tugas kitalah menyempurnakannya.”

























