Menu

Mode Gelap

Nasional · 30 Jun 2025 06:50 WITA ·

Polemik Anggaran Media: Gubernur Jabar Dikritik Abaikan Fungsi Jurnalisme


 Polemik Anggaran Media: Gubernur Jabar Dikritik Abaikan Fungsi Jurnalisme Perbesar

 

BANDUNG, ERANTB.COM – Pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai efisiensi anggaran pemerintah dengan mengurangi kerja sama dengan media pers memicu polemik di kalangan jurnalis dan organisasi media. Dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Dedi menilai bahwa belanja publikasi pemerintah kepada media dianggap tidak efisien dan menyarankan penggunaan media sosial sebagai alternatif penyampaian informasi.

Pernyataan tersebut sontak menuai kritik dari insan pers. Ketua Umum Media Independen Online (MIO) Indonesia, AYS Prayogie, menyebut pandangan tersebut mengabaikan peran strategis media pers dalam demokrasi.

“Media pers memiliki mekanisme verifikasi dan regulasi yang jelas sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Tidak bisa disamakan dengan media sosial yang rentan hoaks,” ujar Prayogie, yang juga Pemimpin Redaksi Hitvberita.com, Sabtu (29/6/2025).

 

Media Sosial Tak Bisa Gantikan Fungsi Jurnalistik

Menurut Prayogie, media sosial memang memberikan kecepatan dan kemudahan dalam menyebarkan informasi, tetapi bukan tanpa risiko. Ketiadaan proses verifikasi membuat media sosial rawan disusupi informasi palsu atau menyesatkan.

“Informasi keliru bisa berdampak besar, apalagi bila datang dari institusi resmi,” tambahnya.

Ia menilai, membandingkan media sosial dengan media pers hanya dari sisi efisiensi anggaran adalah pendekatan yang keliru. Justru, menurutnya, kedua kanal itu dapat digunakan secara komplementer.

Jaga Kualitas Informasi Publik

Dari segi kualitas, konten jurnalistik disusun melalui proses seleksi, penyuntingan, dan konfirmasi sumber, berbeda dengan konten media sosial yang bisa diproduksi siapa pun tanpa kontrol.

“Pemerintah tidak bisa hanya mengejar murah dan cepat. Kualitas dan kredibilitas informasi jauh lebih penting untuk menjaga kepercayaan publik,” tegas Prayogie.

Ia menekankan, jika pemerintah hanya mengandalkan media sosial, maka yang terjadi adalah narasi tunggal tanpa kontrol independen dari media profesional.

Efisiensi yang Tepat Guna

Prayogie menyarankan agar pemerintah tidak serta-merta memutus kerja sama dengan media pers atas nama efisiensi anggaran. Menurutnya, langkah itu justru dapat merusak sistem komunikasi publik yang sehat.

“Sinergi adalah kata kunci. Media sosial bisa dipakai untuk kecepatan, media pers untuk menjaga akurasi dan perspektif yang berimbang,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penghematan yang tidak mempertimbangkan kualitas informasi bisa berdampak panjang terhadap kualitas demokrasi dan partisipasi masyarakat.

“Bukan soal boros atau tidak, tapi soal tepat guna. Informasi keliru justru bisa lebih mahal harganya dalam jangka panjang,” pungkasnya.

Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Amri Akbar: Kepemimpinan, Gagasan, dan Sikap Kebangsaan di Tengah Polemik KAMMI

28 Agustus 2026 - 17:29 WITA

Solidaritas KR-BNN, Gubernur Bali dan NTB Hadir untuk NTT

20 Agustus 2026 - 15:49 WITA

PP KAMMI Desak Erick Thohir Dicopot dari Kemenpora dan Mundur dari Ketua PSSI

11 Agustus 2026 - 01:31 WITA

Pembentukan Universitas Republik Indonesia, Visi Besar atau Prioritas yang Keliru?

31 Juli 2026 - 02:25 WITA

NTB Tuan Rumah Forum Pemuda ASEAN 2026, Langkah Strategis Menuju Ikon Pariwisata Mendunia

27 Juli 2026 - 12:33 WITA

Babinsa dan Bhabinkamtibmas Ikut Awasi Pajak, Solusi atau Masalah Baru?

27 Juli 2026 - 02:32 WITA

Trending di Ekonomi