Mahasiswa KKN PMD Unram Desa Sambelia foto bersama tim Pemadam Kebakaran Lombok Timur, pemateri, dan perangkat desa usai sosialisasi pengolahan limbah tongkol jagung dan edukasi keselamatan kerja di balai desa. (Foto: Dok. KKN PMD Unram Sambelia)
LOMBOK TIMUR, ERANTB – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN PMD) Universitas Mataram mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah tongkol jagung menjadi baglog jamur tiram di Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Inovasi yang diperkenalkan melalui sosialisasi pada Selasa (28/7/2026) itu diikuti sekitar 40 warga sebagai upaya mengubah limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Program tersebut berangkat dari potensi Desa Sambelia sebagai salah satu sentra produksi jagung di Lombok Timur. Selama ini, limbah tongkol jagung hasil panen sebagian besar hanya dibuang atau dibakar sehingga belum memberikan nilai tambah bagi masyarakat maupun lingkungan.
Ketua Kelompok KKN PMD Universitas Mataram Desa Sambelia, Fauzan Zuhdi, mengatakan limbah pertanian tidak seharusnya dipandang sebagai sisa hasil panen yang tidak bernilai. Menurutnya, dengan inovasi dan pendampingan yang tepat, limbah tersebut dapat diolah menjadi produk yang memiliki manfaat ekonomi.
“Ketika ilmu bertemu potensi desa, limbah bukan lagi sebuah masalah, melainkan peluang yang mampu menumbuhkan ekonomi, menjaga lingkungan, dan menghadirkan masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujar Fauzan.
Ia menjelaskan, tongkol jagung dipilih sebagai bahan baku alternatif baglog karena mudah diperoleh di Desa Sambelia dan memiliki kandungan lignoselulosa yang mendukung pertumbuhan jamur tiram.

Ketua Kelompok KKN PMD Unram Desa Sambelia, Fauzan Zuhdi, memaparkan materi pemanfaatan limbah pertanian di hadapan warga dan tokoh masyarakat Desa Sambelia. (Foto: Dok. KKN PMD Unram Sambelia)
“Tongkol jagung memiliki kandungan lignoselulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai media tanam jamur. Jika diolah dengan benar, limbah ini mampu menjadi alternatif bahan baku baglog yang lebih murah sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani,” tambahnya.
Menurut Fauzan, program tersebut tidak berhenti pada pelatihan pembuatan baglog, tetapi juga diarahkan untuk mendorong lahirnya usaha baru berbasis potensi lokal yang dapat dikelola oleh kelompok tani, pemuda, maupun kelompok PKK.
Untuk memperkuat kapasitas masyarakat, mahasiswa menghadirkan praktisi budidaya jamur tiram dari Prima Budidaya Jamur, Andhi Hertanto. Ia membekali peserta dengan teknik budidaya jamur tiram, mulai dari pembuatan baglog, sterilisasi media, perawatan hingga panen. Selain itu, peserta juga memperoleh materi mengenai analisis kelayakan usaha dan strategi pemasaran sebagai bekal membangun usaha yang berkelanjutan.
“Budidaya jamur tidak cukup hanya memahami teknik produksinya. Pelaku usaha juga harus mampu menghitung biaya produksi, menjaga kualitas hasil panen, membaca kebutuhan pasar, dan menyusun strategi pemasaran agar usaha yang dijalankan memberikan keuntungan secara berkelanjutan,” jelas Andhi.
Selain materi budidaya jamur, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai keselamatan kerja melalui materi Kebakaran dan Penyelamatan yang disampaikan oleh Athar, S.AP. bersama Muh. Ihsan, S.AP. dari Satuan Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Timur.
“Setiap usaha memiliki potensi risiko kebakaran. Karena itu masyarakat perlu memahami penggunaan APAR dan langkah penanganan dini agar aktivitas usaha dapat berjalan dengan aman,” kata Athar.
Sementara itu, Muh. Ihsan menambahkan bahwa kemampuan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) merupakan keterampilan dasar yang penting dimiliki pelaku usaha untuk meminimalkan risiko kerugian apabila terjadi keadaan darurat.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi. Peserta aktif berdiskusi mengenai teknik budidaya, kebutuhan modal, hingga peluang pemasaran jamur tiram. Melalui program ini, mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram berkomitmen mendampingi masyarakat agar inovasi pemanfaatan limbah tongkol jagung dapat berkembang menjadi usaha produktif yang meningkatkan pendapatan sekaligus mendukung pembangunan desa berkelanjutan.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemanfaatan limbah pertanian yang lebih bernilai dan berkelanjutan.

























