Kobaran api membumbung tinggi saat menghanguskan asrama dan lab komputer MA Mu’allimin NW Anjani, Lombok Timur, Minggu malam (23/8/2026). (Foto: Dok. ERA NTB)
LOMBOK TIMUR, ERANTB.COM – Kebakaran melanda kompleks Pondok Pesantren Syaikh Zainuddin MA Mu’allimin NW Anjani, Kabupaten Lombok Timur, pada Minggu malam (23/8/2026). Empat ruangan dilaporkan terbakar, terdiri dari tiga ruang asrama santri dan satu laboratorium komputer.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Saat api muncul, ruangan yang terbakar dalam kondisi kosong sehingga para santri tidak berada di dalam bangunan.
Pasca kejadian, perhatian kini tertuju pada proses pemulihan fasilitas pesantren. Kementerian Agama (Kemenag) Lombok Timur masih menunggu arahan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) NTB untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Kepala Kemenag Lombok Timur, Shulhi, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kanwil Kemenag NTB setelah menerima laporan mengenai kejadian tersebut.
“Untuk tindak lanjut, kami masih dalam tahap koordinasi dengan pihak Kanwil,” ujar Shulhi, Senin malam (24/8/2026).
Menurutnya, hasil koordinasi tersebut akan menjadi acuan dalam menentukan bentuk penanganan, termasuk kebutuhan pemulihan fasilitas serta keberlangsungan kegiatan pendidikan para santri.
Pasalnya, tiga ruangan yang terdampak merupakan asrama tempat tinggal santri. Sementara satu ruangan lainnya merupakan laboratorium komputer yang digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan.
Shulhi memastikan Kemenag Lombok Timur akan menindaklanjuti arahan dari Kanwil Kemenag NTB setelah proses koordinasi selesai.
“Kami berkomitmen untuk segera menindaklanjuti arahan tersebut demi memastikan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di Ponpes tersebut,” katanya.
Dampak kebakaran dirasakan sekitar 60 santri kelas 11 yang sebelumnya menempati tiga ruang asrama tersebut.
Pengurus pesantren kemudian menyiapkan ruangan pengganti agar para santri tetap memiliki tempat tinggal selama proses pemulihan fasilitas berlangsung. Penataan ulang juga dilakukan terhadap sejumlah fasilitas yang masih dapat digunakan.
Di tengah proses tersebut, santri mulai mendatangi lokasi untuk memeriksa barang-barang pribadi yang berada di dalam maupun sekitar ruangan terdampak.
Barang yang masih bisa diselamatkan kemudian diamankan. Sejumlah santri asal luar daerah juga mulai mengambil barang pribadi mereka, sementara santri asal Lombok yang sebelumnya berada di kampung halaman turut kembali ke pondok untuk mengecek kondisi barang masing-masing.
Pengurus Mu’allimin Anjani, Wildan, mengatakan empat ruangan mengalami kerusakan akibat peristiwa tersebut.
“Yang terbakar tadi malam itu empat lokal. Ada tiga ruang asrama dan satu ruang lab komputer. Kerusakan mencakup bangunan dan seluruh unit komputer beserta aksesorinya,” ujar Wildan.
Kerusakan tersebut kini masih dalam proses pendataan. Pengurus melakukan inventarisasi terhadap bangunan maupun fasilitas yang berada di dalam ruangan untuk mengetahui kebutuhan pemulihan.
Laboratorium komputer menjadi salah satu fasilitas yang mengalami kerusakan cukup besar. Seluruh perangkat komputer beserta aksesorinya dilaporkan ikut terbakar.
Kerugian akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai Rp1,32 miliar. Nilai tersebut mencakup kerusakan bangunan serta berbagai fasilitas yang berada di dalam empat ruangan.
Pendataan masih dilakukan untuk memastikan seluruh kerusakan dan kebutuhan yang diperlukan dalam proses pemulihan.
Besarnya nilai kerugian membuat pemulihan fasilitas pesantren membutuhkan dukungan dan koordinasi dari berbagai pihak. Dalam hal ini, komunikasi antara pengurus pesantren, Kemenag Lombok Timur dan Kanwil Kemenag NTB menjadi bagian penting dalam menentukan langkah selanjutnya.
Meski menyebabkan kerusakan cukup besar, peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.
Pengurus menduga api berasal dari korsleting listrik atau arus pendek. Namun, dugaan tersebut masih merupakan informasi awal dan tidak ditujukan untuk menuduh pihak tertentu.
“Kami menduga ini murni arus pendek. Tidak ada pihak yang kami duga atau kami tuduh. Ini murni kecelakaan,” tutur Wildan.
Setelah api berhasil ditangani, pengecekan dilakukan terhadap kondisi bangunan dan fasilitas yang terdampak. Pengurus juga mulai melakukan pendataan terhadap barang maupun fasilitas yang masih dapat diselamatkan.
Kerusakan sejumlah fasilitas membuat pengurus pesantren harus melakukan penyesuaian agar kegiatan santri tetap berlangsung.
Penyiapan ruang pengganti menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 60 santri yang terdampak. Dengan begitu, aktivitas pendidikan di lingkungan pesantren diharapkan tidak terhenti akibat kerusakan fasilitas.
Di sisi lain, Kemenag Lombok Timur masih menunggu arahan dari Kanwil Kemenag NTB terkait langkah pemulihan. Arahan tersebut nantinya menjadi dasar untuk menentukan penanganan lebih lanjut terhadap fasilitas yang mengalami kerusakan.
Kemenag juga berencana menyusun arahan melalui surat edaran dan imbauan terkait penanganan serta pemulihan pondok pesantren.
Sementara menunggu proses tersebut, pengurus pesantren tetap berupaya memenuhi kebutuhan para santri dan memastikan kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan fasilitas yang masih tersedia.
Saat ini, penanganan pascakebakaran difokuskan pada pendataan kerusakan, pengamanan barang santri, penataan fasilitas yang masih dapat digunakan, serta penyediaan ruang pengganti bagi santri terdampak.
Koordinasi antara pengurus pesantren dengan Kemenag Lombok Timur dan Kanwil Kemenag NTB terus dilakukan untuk menentukan langkah pemulihan berikutnya.
Kebakaran tersebut tidak hanya berdampak pada bangunan asrama, tetapi juga mengakibatkan rusaknya laboratorium komputer yang menjadi bagian dari fasilitas penunjang pendidikan.
Dengan penanganan secara bertahap dan terkoordinasi, fasilitas pesantren diharapkan dapat kembali berfungsi sehingga para santri dapat menjalankan aktivitas pendidikan dan kehidupan di lingkungan pondok secara normal.
























