Gubernur NTB berinteraksi langsung dan mendongeng bersama anak-anak dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026.(Foto: Dok. Kominfotik NTB)
MATARAM, ERANTB – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Tahun 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa setiap anak tidak hanya berhak memperoleh pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan kasih sayang, tetapi juga berhak mengenal identitas budayanya sebagai bagian dari pembentukan karakter dan jati diri. Berangkat dari semangat tersebut, Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial sebagai ruang utama pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhamad Ihwan, mengatakan bahwa perkembangan teknologi digital dan arus globalisasi telah membuka ruang belajar yang semakin luas bagi anak-anak. Namun, di saat yang sama, perubahan tersebut menuntut hadirnya fondasi karakter yang kuat agar anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berdaya saing, sekaligus tetap memiliki identitas budaya.
“Kemajuan teknologi adalah sebuah keniscayaan yang tidak mungkin kita hentikan. Tantangannya bukan memilih antara budaya atau teknologi, melainkan memastikan anak-anak kita memiliki akar budaya yang kuat sehingga mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana tanpa kehilangan jati dirinya. Budaya bukan untuk melawan kemajuan, tetapi menjadi kompas yang menuntun arah kemajuan,” ujar Muhamad Ihwan.
Menurut Ihwan, keluarga merupakan ruang pertama pewarisan budaya. Di lingkungan keluargalah anak mengenal bahasa ibunya, belajar menghormati orang tua, memahami nilai gotong royong, mengenal adat istiadat, mendengar cerita rakyat, serta menyerap keteladanan yang kelak membentuk cara berpikir dan bersikap dalam kehidupan bermasyarakat.
Pesan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, bahwa kasih sayang orang tua merupakan hak terbesar setiap anak, menurutnya juga memiliki makna yang sangat kuat dalam perspektif kebudayaan. Kasih sayang tidak hanya diwujudkan melalui perhatian dan pemenuhan kebutuhan hidup, tetapi juga melalui pewarisan nilai, tradisi, bahasa daerah, sejarah, serta keteladanan yang membentuk karakter anak sejak usia dini.
NTB memiliki kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Sasak, Samawa, Mbojo, dan Dompu. Nilai-nilai seperti Maja Labo Dahu, yang mengajarkan rasa malu dan takut melakukan perbuatan tercela; Sabalong Samalewa, yang menekankan keseimbangan, keharmonisan, dan keadilan; Nggahi Rawi Pahu, yang mengajarkan keselarasan antara ucapan dan tindakan; serta berbagai kearifan lokal masyarakat Sasak merupakan modal sosial yang telah lama membentuk masyarakat NTB menjadi religius, santun, jujur, bertanggung jawab, dan menjunjung tinggi kebersamaan.
Di tengah perkembangan teknologi informasi, ruang-ruang pewarisan budaya menghadapi tantangan baru. Anak-anak semakin akrab dengan dunia digital, sementara tradisi mendongeng, permainan rakyat, penggunaan bahasa daerah dalam keluarga, hingga kebiasaan bermusyawarah mulai berkurang intensitasnya. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui festival atau kegiatan seremonial, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB terus mendorong agar kebudayaan menjadi bagian dari pola pengasuhan keluarga, proses pembelajaran di sekolah, aktivitas masyarakat, dan ruang-ruang publik. Budaya harus hidup sebagai praktik keseharian yang membentuk karakter, bukan sekadar dikenang sebagai warisan masa lalu.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB terus memperkuat berbagai program pemajuan kebudayaan, antara lain revitalisasi Museum Negeri NTB sebagai ruang edukasi yang ramah anak, penguatan fungsi Taman Budaya sebagai pusat kreativitas generasi muda, pelestarian tradisi lisan, permainan rakyat, bahasa daerah, manuskrip, seni tradisi, serta pengembangan Agen Kebudayaan Muda di seluruh kabupaten dan kota.
Program-program tersebut merupakan implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia dalam mewujudkan visi NTB Makmur Mendunia.
“Kami meyakini bahwa membangun kebudayaan pada hakikatnya adalah membangun manusia. Museum, taman budaya, sanggar seni, dan ruang-ruang kebudayaan harus menjadi tempat anak-anak mengenal sejarah, mencintai budayanya, mengembangkan kreativitas, serta membangun karakter yang akan mengantarkan mereka menjadi generasi yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitasnya,” tambah Muhamad Ihwan.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2026, Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat mengajak orang tua, guru, tokoh agama, tokoh adat, pelaku seni budaya, pemerintah daerah, dunia pendidikan, media, dan seluruh masyarakat untuk bersama-sama memenuhi hak anak atas identitas budaya melalui pewarisan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab pada akhirnya, warisan terbesar yang dapat diberikan kepada anak bukan hanya ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi, melainkan juga karakter, identitas, serta nilai-nilai budaya yang akan menjadi kompas kehidupan mereka di tengah perubahan zaman. Anak-anak bukan hanya pewaris kebudayaan, tetapi juga pencipta kebudayaan masa depan. Karena itu, mereka perlu diberi ruang untuk mengenal akar budayanya sekaligus berkreasi dan berinovasi sesuai dengan zamannya.
Selamat Hari Anak Nasional Tahun 2026.Mari kita tumbuhkan anak-anak Nusa Tenggara Barat dengan kasih sayang, kita kuatkan dengan pendidikan, dan kita besarkan dengan nilai-nilai luhur kebudayaan. Dari tangan merekalah akan lahir generasi yang cerdas, berkarakter, berdaya saing global, sekaligus tetap kokoh berpijak pada akar budaya yang menjadi jati diri Nusa Tenggara Barat. (EraNTB)























