Menu ✖

Mode Gelap

Lingkungan · 5 Okt 2026 13:09 WITA ·

Jalur Pendakian Timbanuh Puncak Tembesi, Alternatif Favorit Nikmati Keindahan Gunung Rinjani


 Jalur Pendakian Timbanuh Puncak Tembesi, Alternatif Favorit Nikmati Keindahan Gunung Rinjani Perbesar

Suasana pelayanan di Pusat Pelayanan Terpadu Data dan Informasi Dinas Sosial Kabupaten Lombok Tengah. Dinsos Loteng meluncurkan inovasi ‘Jari Masmirah’ untuk mempermudah akses layanan sosial masyarakat cukup lewat pesan WhatsApp. (Foto: Dok. Dinsos Loteng/ERA NTB)


LOMBOK TIMUR, TIMBANUH (5/10) ERANTB.COM— Jalur pendakian Gunung Rinjani melalui Timbanuh, Lombok Timur, ternyata tidak hanya menawarkan tanjakan dan medan yang menguras tenaga.

Jalur ini memiliki karakter khusus dengan kombinasi hutan yang masih alami, mata air, kawasan savana, bunga edelweiss hingga panorama Danau Segara Anak dan Gunung Barujari.

Keindahan tersebut dirasakan langsung 34 pendaki dari tim Pendaki Hora Hore saat melakukan perjalanan pada Sabtu (3/10/2026) hingga Minggu (4/10/2026)

Rombongan memulai perjalanan dari Gerbang TNGR Desa Timbanuh sekitar pukul 09.00 WITA.

Pada bagian awal, pendaki langsung masuk ke kawasan hutan yang masih rapat dan sejuk.

Sekitar satu jam perjalanan, rombongan tiba di Pos 1. Jalur kemudian berlanjut menuju Pos 2 dengan waktu tempuh sekitar tiga jam dalam ritme santai.

Di sepanjang jalur, rombongan beberapa kali berhenti untuk beristirahat dan menikmati suasana hutan.

Menurut salah satu pendaki, Cindy, karakter jalur Timbanuh justru terasa menarik karena pemandangan terus berubah sepanjang perjalanan.

“Jalurnya masih alami. Kita melewati hutan, ada mata air di post 2, kemudian semakin ke atas pemandangannya berubah. Jadi tidak hanya tanjakan saja,” ujar Cindy.

Sesampainya di Pos 2, para pendaki dapat menemukan mata air alami yang menjadi sumber penting untuk mengisi kembali persediaan air.

Rombongan memanfaatkan waktu tersebut untuk makan dan beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Selepas Pos 2, medan mulai berubah. Tanjakan semakin terasa dan tenaga mulai terkuras.

Namun jalur tidak terus-menerus menanjak. Beberapa bagian yang lebih landai menjadi kesempatan bagi pendaki untuk mengatur napas.

Semakin tinggi, pepohonan mulai berubah dan beberapa bagian jalur menjadi lebih terbuka.

Rombongan kemudian melewati kawasan Kali Mati sebelum tiba di area camp Pos 3 sekitar pukul 16.20 WITA.

Perjalanan dari Pos 2 menuju camp Pos 3 membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan ritme santai.

Di Pos 3, selain tersedia mata air, para porter telah menyiapkan tenda dan kebutuhan rombongan.

Malam hari menjadi tantangan tersendiri karena suhu semakin dingin.

Summit attack dan bonus sunrise

Setelah beristirahat, rombongan melakukan summit attack sekitar pukul 04.00 WITA menuju Puncak Tembesi.

Langkah menjadi lebih pelan karena kondisi masih gelap dan medan semakin menanjak.

Namun perjalanan pagi itu memberikan kejutan.

Ketika rombongan mulai memasuki kawasan savana, cahaya matahari perlahan muncul dari ufuk timur.

Langit berubah kemerahan. Cahaya pagi menerangi hamparan pegunungan Rinjani dan membuat perjalanan yang melelahkan terasa terbayar.

Pendaki lainnya, Sry mengaku momen sunrise tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perjalanan.

“Memang kita berangkat sedikit terlambat. Tapi justru dapat sunrise di savana. Pemandangannya luar biasa,” katanya.

Edelweiss hingga panorama Barujari

Perjalanan menuju Puncak Tembesi juga memperlihatkan bunga edelweiss yang tumbuh di kawasan pegunungan.

Sekitar 2,5 jam dari area camp dengan ritme normal, rombongan akhirnya mencapai Puncak Tembesi dengan ketinggian sekitar 2.853 MDPL.

Dari ketinggian tersebut, Danau Segara Anak dan Gunung Barujari terlihat membentang di hadapan pendaki.

Pemandangan inilah yang membuat perjalanan melalui Timbanuh memiliki daya tarik tersendiri.

Selain keindahan alam, perjalanan 34 pendaki Hora Hore juga diwarnai kebersamaan.

Ketika ada anggota yang kelelahan, rombongan berhenti. Saat ada yang mengalami kram atau cedera ringan, anggota lainnya membantu.

Koordinator perjalanan, Om Dwi alias Om Bogel, bahkan memilih berada di barisan paling belakang untuk memastikan seluruh anggota tetap bersama.

“Yang penting semua sampai. Jangan ada yang ditinggalkan,” kata Om Bogel.

Usianya yang sudah sekitar 60 tahun tidak membuatnya memilih berjalan di depan. Justru ia memastikan anggota yang berada di belakang tetap terpantau.

Bagi Cindy, Sry dan Om Bogel, serta pendaki lainnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendakian bukan sekadar tentang mencapai puncak.

Jalur Timbanuh menawarkan pengalaman lengkap: hutan yang sejuk, mata air, tanjakan, savana, edelweiss, dinginnya malam, sunrise hingga panorama Segara Anak dan Barujari.

Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang membuat perjalanan 34 pendaki tersebut semakin berarti: mereka memilih berjalan bersama dan memastikan tidak ada yang ditinggalkan. (Red)

Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Sinergi Pemkab Sumbawa dan NGO Internasional Salurkan Bantuan untuk 173 Anak Yatim

5 Oktober 2026 - 08:15 WITA

NTB Care Apresiasi Kadis Dinsos Loteng H. Masnun Luncurkan Jari Masmirah: Layanan Sosial Cukup Lewat WA

2 Oktober 2026 - 15:59 WITA

NTBCARE Dorong Terobosan Dikes Lobar: Pengaktifan BPJS Nonaktif Kini Bisa Lewat WhatsApp

30 September 2026 - 12:07 WITA

Bank NTB Syariah Tegaskan Pembiayaan Nasabah Sesuai Aturan yang Berlaku

30 September 2026 - 10:39 WITA

Diduga Dipicu Puntung Rokok, Lahan Kering di Pemakaman Cina Bagek Kembar Terbakar

29 September 2026 - 11:02 WITA

ORADO 101 Piala Panglima TNI Resmi Ditutup, Dandim Dompu Tekankan Kebersamaan TNI dan Rakyat

29 September 2026 - 06:42 WITA

Trending di News