Menu

Mode Gelap

Desaku · 4 Sep 2026 21:32 WITA ·

Menolak Jadi Penonton Politik Desa : Saatnya Pemuda Menguji Gagasan Para Calon Kepala Desa Labulia


 Menolak Jadi Penonton Politik Desa : Saatnya Pemuda Menguji Gagasan Para Calon Kepala Desa Labulia Perbesar

Oleh: Lalu Rahmat Iqbal (Kabid Medinfo Karang Taruna Desa Labulia / Pemuda labulia)


LOMBOK TIMUR, ERANTB.COM – Tahun ini menjadi tahun politik bagi masyarakat Desa Labulia. Memasuki Oktober 2026, Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Labulia akan digelar untuk menentukan siapa yang akan menjadi nahkoda pemerintahan dan pembangunan desa selama delapan tahun ke depan.

Hingga 2 September 2026, tercatat lima bakal calon telah mendaftarkan diri dan masih menunggu proses verifikasi serta penetapan calon tetap.

Siapa pun yang nantinya ditetapkan sebagai calon, ada satu hal yang menurut saya penting untuk menjadi perhatian bersama, terutama bagi pemuda Desa Labulia: jangan sampai kita hanya menjadi penonton dalam politik desa.

Pilkades seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa yang paling banyak memasang baliho, siapa yang memiliki pendukung paling ramai, atau siapa yang memiliki jaringan keluarga dan pertemanan paling kuat. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apa yang akan dilakukan calon kepala desa untuk Labulia?

Selama ini, kita sering terlalu sibuk membicarakan siapa calonnya, siapa pendukungnya, dan siapa yang paling berpeluang menang. Sementara gagasan, program, kapasitas, integritas, dan rekam jejak calon justru belum menjadi pembicaraan utama.

Padahal, pilihan kita akan menentukan bagaimana pemerintahan desa berjalan, bagaimana anggaran dikelola, bagaimana pelayanan kepada masyarakat diberikan, serta ke mana arah pembangunan Desa Labulia selama delapan tahun mendatang.

 

Jangan Memilih Hanya Karena Kedekatan

Dalam kehidupan sosial masyarakat desa, hubungan keluarga, pertemanan, dan kedekatan tentu tidak bisa dipisahkan. Kita mungkin mengenal salah satu calon, pernah bekerja bersama, berteman, atau bahkan memiliki hubungan keluarga. Semua itu adalah hal yang wajar.

Namun, kedekatan tidak boleh menggantikan penilaian.

Ketika tiba waktunya menentukan pilihan, pertanyaan sederhananya adalah: apakah calon tersebut benar-benar memiliki kemampuan untuk memimpin Desa Labulia?

Kepala desa bukan sekadar jabatan atau penghargaan atas kebaikan seseorang. Kepala desa akan berhadapan dengan persoalan pemerintahan, pembangunan, pelayanan publik, pengelolaan anggaran, pemberdayaan masyarakat, ekonomi warga, konflik sosial, hingga berbagai persoalan lain yang muncul di tengah masyarakat.

Karena itu, setiap calon seharusnya siap diuji oleh masyarakat. Pemilih memiliki hak untuk bertanya, membandingkan, bahkan mengkritisi gagasan yang ditawarkan.

Apa persoalan utama Desa Labulia yang ingin diselesaikan? Apa solusinya? Berapa lama target penyelesaiannya? Dari mana sumber pembiayaannya? Siapa yang akan dilibatkan? Dan bagaimana masyarakat dapat mengukur keberhasilannya?

Jawaban seperti “ingin membangun desa”, “meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, atau “membawa perubahan” tentu terdengar baik. Tetapi menurut saya, masyarakat membutuhkan sesuatu yang lebih konkret: program yang jelas, realistis, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan desa.

Hal yang sama berlaku dalam persoalan kepemudaan.

Jangan sampai pemuda hanya dibutuhkan ketika masa kampanye tiba – untuk mengumpulkan massa, membuat konten, atau membantu kegiatan politik. Setelah pemilihan selesai, pemuda justru kembali dilupakan.

Pemuda membutuhkan ruang yang nyata.

Apa program calon untuk meningkatkan keterampilan pemuda? Bagaimana peluang usaha dapat dibuka? Bagaimana potensi pemuda di bidang olahraga, teknologi, seni, pertanian, dan kewirausahaan akan dikembangkan?

Kalau pemuda hanya dicari saat kampanye lalu dilupakan setelah pemilihan, menurut saya itu bukan pemberdayaan. Itu hanya pemanfaatan.

 

Gagasan Harus Diuji, Anggaran Harus Diawasi

Janji politik selalu terdengar menarik ketika disampaikan di hadapan masyarakat, termasuk kepada kalangan pemuda. Tetapi sebagai pemilih, kita tidak boleh berhenti pada apa yang terdengar bagus.

Jika seorang calon menawarkan pembangunan besar, kita berhak bertanya dari mana sumber pembiayaannya.

Jika menawarkan pemberdayaan masyarakat, siapa yang akan menjadi penerima manfaat?

Jika menawarkan program kepemudaan, bagaimana pelaksanaannya?

Jika menjanjikan pelayanan publik yang lebih baik, apa langkah konkretnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan bentuk permusuhan. Justru, menurut saya, itulah bagian dari demokrasi.

Calon yang memiliki gagasan kuat seharusnya tidak takut diuji. Sebaliknya, masyarakat juga tidak perlu takut bertanya.

Begitu pula dengan pengelolaan anggaran desa. Anggaran desa merupakan uang publik. Masyarakat memiliki hak untuk mengetahui apa yang menjadi prioritas penggunaannya, apa manfaatnya bagi warga, dan bagaimana pengawasannya dilakukan.

Desa yang maju bukan hanya desa yang memiliki banyak bangunan atau proyek fisik. Desa yang maju adalah desa yang mampu mengelola pemerintahan dan anggarannya secara efektif, efisien, transparan, serta dapat dipercaya.

Karena itu, memilih kepala desa bukan berarti memberikan cek kosong.

Kita perlu mengetahui apa yang ingin dilakukan calon, bagaimana cara mewujudkannya, siapa yang akan dilibatkan, serta bagaimana masyarakat dan pemuda dapat ikut mengawasi ketika janji-janji tersebut tidak berjalan.

 

Pemuda Bukan Sekadar Massa Pendukung

Pemuda Labulia harus mulai mengubah pertanyaan dari “Side pilih siapa?”bmenjadi “Mengapa side memilihnya?”

Pilihan politik jangan hanya lahir karena hubungan keluarga, pertemanan, imbalan, atau tekanan lingkungan. Pilihan seharusnya lahir dari penilaian terhadap gagasan, integritas, kapasitas, dan rekam jejak para calon kepala desa.

Membandingkan calon bukan tindakan yang tidak sopan. Justru, itu merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai pemilih.

Jika ada beberapa calon, mengapa kita tidak membandingkan visi mereka?

Jika ada beberapa program, mengapa kita tidak melihat mana yang paling realistis dan paling sesuai dengan kebutuhan Labulia?

Jika ada calon yang memiliki pengalaman, mengapa kita tidak melihat apa yang pernah dikerjakannya?

Pemuda juga tidak boleh menutup mata terhadap politik transaksional. Keuntungan yang diterima pemilih mungkin hanya dirasakan dalam sehari, tetapi keputusan politik yang dihasilkan dapat berdampak selama bertahun-tahun.

Suara kita terlalu berharga jika hanya ditukar dengan keuntungan sesaat.

Tantangan terbesar pemuda bukan hanya menentukan siapa yang dipilih, tetapi juga berani berpikir secara independen. Berani berbeda pilihan dengan keluarga atau teman. Berani mengkritik calon yang kita kenal. Bahkan, berani mengakui bahwa pilihan kita sendiri bisa saja keliru.

Demokrasi tidak membutuhkan masyarakat yang selalu sepakat. Demokrasi membutuhkan warga yang mau berpikir, bertanya, berdialog, dan menghargai perbedaan.

 

Saatnya Pemuda Labulia Mengawal Demokrasi

Saya percaya Desa Labulia memiliki banyak anak muda yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Persoalannya sekarang adalah apakah kemampuan tersebut mau kita gunakan untuk kepentingan pembangunan desa.

Jangan biarkan politik desa hanya menjadi ruang bagi elite dan kelompok tertentu.

Pemuda harus hadir dalam percakapan publik, ruang audiensi, maupun kolaborasi yang menyangkut kepentingan masyarakat. Bukan menjadi pendukung buta. Bukan menjadi penyebar propaganda. Dan bukan sekadar massa tambahan dalam kampanye.

Pemuda harus menjadi penguji gagasan sekaligus pengawal demokrasi desa.

Kita tidak harus membenci calon untuk mengkritik programnya. Kita juga tidak harus memusuhi pendukung calon lain hanya karena berbeda pilihan.

Yang harus kita lakukan adalah menempatkan kepentingan masyarakat Desa Labulia di atas kepentingan kelompok.

Pada akhirnya, siapa pun yang terpilih akan menjadi kepala Desa Labulia kita bersama. Karena itu, tugas kita bukan hanya memilih siapa yang menang, tetapi memastikan bahwa orang yang menang benar-benar siap memimpin.

Dan setelah pemilihan selesai, tugas pemuda belum berakhir. Justru saat itulah pengawasan dimulai.

Kita harus berani bertanya sebelum memilih, memahami visi dan misi calon, menguji program yang ditawarkan, mengawasi jalannya pemerintahan setelah pemilihan, serta berani menuntut pertanggungjawaban ketika janji tidak ditepati.

Masa depan Desa Labulia terlalu penting untuk ditentukan hanya berdasarkan siapa yang paling dekat dengan kita. Yang lebih penting adalah siapa yang memiliki gagasan, kapasitas, integritas, dan kemauan untuk benar-benar berbuat bagi desa.

Suara pemuda Desa Labulia adalah bagian dari harapan, cita-cita, dan impian untuk keberlanjutan pembangunan serta masa depan desa.

Saatnya memilih gagasan.

Saatnya menguji calon.

Saatnya pemuda Labulia berhenti menjadi penonton.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Jelang Pilkades 7 September, DPMD Sumbawa Ingatkan Calon dan Pendukung Jaga Kondusivitas

3 September 2026 - 18:47 WITA

Nyaris Diamuk Massa, Dua Warga Terduga Perbuatan Asusila Dievakuasi Polisi di Sumbawa

2 September 2026 - 22:21 WITA

Polisi Amankan Pria 37 Tahun, Diduga Cabuli Anak 15 Tahun di Labuhan Badas

1 September 2026 - 00:01 WITA

KAMMI dan Amal Abadi Salurkan Bantuan Darurat untuk Korban Kebakaran Dusun Adat Sade

30 Agustus 2026 - 00:05 WITA

Amri Akbar: Kepemimpinan, Gagasan, dan Sikap Kebangsaan di Tengah Polemik KAMMI

28 Agustus 2026 - 17:29 WITA

Cabai Ditanam di Sekolah, Wabup UNA: Langkah Kecil Bisa Berdampak Besar bagi Ekonomi Daerah

28 Agustus 2026 - 09:43 WITA

Trending di News