Menu

Mode Gelap

Kota Mataram · 19 Agu 2026 09:11 WITA ·

Rayakan HUT RI ke-81 di Tengah Laut, Sekolah Pesisi Juang Ajak Warga “Melarung” Ego


 Rayakan HUT RI ke-81 di Tengah Laut, Sekolah Pesisi Juang Ajak Warga “Melarung” Ego Perbesar

Anggota Komunitas Sekolah Pesisi Juang dan warga pesisir membentangkan Merah Putih serta menggelar prosesi tabur bunga di atas perahu nelayan di perairan Pantai Bintaro, Ampenan, Mataram, Senin (17/8/2026). (Foto: Dok. Istimewa)


MATARAM, ERANTB.COM– Laut menjadi ruang refleksi bagi Komunitas Sekolah Pesisi Juang dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Melalui tradisi Larung Laut di Pantai Bintaro, Ampenan, Senin (17/8/2026), komunitas tersebut mengajak masyarakat tidak hanya mengenang kemerdekaan, tetapi juga berani mengevaluasi diri.

Suara ombak dan deru perahu nelayan mengiringi pengibaran bendera Merah Putih di tengah perairan Selat Lombok. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga sebagai bentuk penghormatan kepada para nelayan yang gugur maupun hilang saat mencari penghidupan di laut.

Inisiator Sekolah Pesisi Juang, Jauhari, mengatakan laut dipilih sebagai ruang refleksi karena memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Menurutnya, luasnya laut dapat menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan.

“Laut adalah cermin besar. Di hadapan luasnya samudra, manusia sebenarnya bukan apa-apa,” ujar Jauhari.

Menurut Jauhari, pesan tersebut menjadi dasar kegiatan Larung Laut tahun ini. Ia ingin masyarakat melihat laut bukan hanya sebagai sumber penghidupan, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar tentang kerendahan hati.

“Yang kita larung bukan hanya bunga. Kita ingin melarung ego, keserakahan, keangkuhan, dan segala sesuatu yang membuat kita merasa paling benar sendiri,” kata Jauhari.

Ia menilai sifat-sifat tersebut tidak hanya berdampak pada hubungan antarmanusia. Jika dibiarkan, ego dan keserakahan juga dapat memengaruhi cara manusia memperlakukan alam.

Karena itu, prosesi Larung Laut diharapkan menjadi simbol untuk meninggalkan sikap yang selama ini menghambat kepedulian dan kebersamaan. Ruang yang kosong setelah “melarung” berbagai sifat buruk tersebut diharapkan dapat diisi dengan gotong royong, kepedulian, dan rasa saling menghargai.

“Setelah ego dan keangkuhan itu kita larung, yang harus kita tumbuhkan adalah kepedulian. Kita ingin kembali mengingat bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang alam dan orang-orang di sekitar kita,” ujarnya.

Bagi Sekolah Pesisi Juang, refleksi tersebut memiliki kaitan erat dengan makna kemerdekaan. Kemerdekaan tidak hanya dipahami sebagai momentum sejarah yang diperingati setiap 17 Agustus, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperbaiki cara manusia menjalani kehidupan.

Jauhari melihat kemerdekaan sebagai momentum untuk melakukan evaluasi. Masyarakat perlu berani melihat kembali berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar, termasuk persoalan pesisir dan kehidupan nelayan.

Tabur bunga di tengah laut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Prosesi itu ditujukan untuk mengenang para nelayan yang gugur maupun hilang ketika menjalankan aktivitas di laut.

Bagi masyarakat pesisir, laut merupakan sumber kehidupan. Namun, laut juga menyimpan risiko yang setiap hari dihadapi para nelayan. Mereka berangkat meninggalkan keluarga dengan ketidakpastian untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Karena itu, penghormatan kepada nelayan dalam Larung Laut menjadi pengingat bahwa pembangunan dan kemerdekaan juga memiliki cerita dari masyarakat yang bekerja dalam senyap.

Pengibaran Merah Putih di atas perahu nelayan kemudian menjadi simbol bahwa kemerdekaan harus dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang menggantungkan hidup dari laut.

Lebih jauh, Sekolah Pesisi Juang ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk membangun kesadaran ekologis. Laut yang menjadi sumber kehidupan harus dijaga, bukan dieksploitasi tanpa batas.

Menurut Jauhari, manusia perlu menempatkan dirinya sebagai bagian dari alam. Dengan cara pandang tersebut, kepedulian terhadap pesisir tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan menjaga lingkungan.

Larung Laut 2026 akhirnya tidak hanya meninggalkan bunga di tengah Selat Lombok. Ada pesan yang ingin dibawa kembali ke daratan: bahwa kemerdekaan juga membutuhkan kerendahan hati.

Manusia perlu berani “melarung” ego, keserakahan, dan keangkuhan dalam dirinya. Sebagai gantinya, kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab terhadap alam perlu terus ditumbuhkan.

Dari Pantai Bintaro, Sekolah Pesisi Juang mengingatkan bahwa laut bukan hanya tempat manusia mencari kehidupan. Laut juga menjadi cermin yang mengajarkan manusia untuk mengenali batas dirinya, menghormati alam, dan kembali kepada nilai kemanusiaan.

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Dorong Pengentasan Kemiskinan Ekstrem, Pemprov NTB Jadikan KDKMP Penggerak di 40 Desa Berdaya Transformatif

19 Agustus 2026 - 11:13 WITA

Kado Manis HUT RI ke-81, 1.256 Warga Binaan Lapas Lombok Barat Terima Remisi, Enam Langsung Bebas

19 Agustus 2026 - 11:02 WITA

KAMMI NTB : Pencalonan Miq Iqbal di KONI Jadi Momentum Konsolidasi Olahraga NTB Menuju PON 2028

16 Agustus 2026 - 12:06 WITA

Herbologis Cafe Mataram Hadir Jadi Ruang Kreatif Anak Muda, dari Ngopi hingga Bangun Relasi

16 Agustus 2026 - 11:39 WITA

Jelang Hut RI, Pemkot Mataram Larang Gerak Jalan Banci hingga Main Bola Pakai Daster

15 Agustus 2026 - 16:45 WITA

Viral di Sosmed! Wisatawan Lokal Bongkar Kejanggalan Retribusi hingga Karcis Masuk Wisata Bukit Lombok Tengah

15 Agustus 2026 - 16:21 WITA

Trending di Lombok Tengah