Oleh : Firmansyah, S.Psi., M.MKes
Seorang Konsultan Psikologi dan Ahli Muda Pranata Humas Bagian Prokopim Sekertariat Daerah Pemerintah Kabupaten Dompu
ERANTB.COM–Belakangan ini, sejumlah media online lokal memberitakan kasus kekerasan seksual terhadap anak perempuan. Ironisnya, pelaku diduga adalah orang terdekat: ada yang menyebut ayah tiri, sementara media lain menyebut ayah kandung.
Kejadian memilukan seperti ini tentu menimbulkan dampak sosial dan psikologis yang mendalam, tidak hanya bagi korban, tetapi juga bagi masyarakat luas. Kita tentu berharap agar peristiwa serupa tidak terulang. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan masyarakat untuk berupaya maksimal dalam melindungi anak-anak dari potensi menjadi korban kekerasan seksual.
Sebagai orang tua, kita semua ingin anak tumbuh sehat secara fisik, mental, dan emosional—tanpa harus kehilangan masa depan akibat ulah oknum tak bertanggung jawab. Namun, bagaimana caranya agar anak-anak di lingkungan kita dapat terlindungi dari predator seksual yang bisa mengintai kapan saja?
Menurut Psikolog Dr. Lalu Yulhaidir, Direktur Lembaga Psikologi Inspirasi Lombok, pelaku kekerasan seksual terhadap anak sebenarnya dapat dikenali dari ciri-ciri dan kecenderungan tertentu. Psikolog yang akrab disapa Mamiq Yul ini menjelaskan bahwa pelaku umumnya berasal dari lingkungan yang buruk dan memiliki masalah dalam relasi intim serta perilaku sosial.
“Pelaku kekerasan seksual anak biasanya memiliki sikap dan perilaku yang buruk,” jelasnya. Dalam beberapa kasus, mereka juga merupakan mantan korban kekerasan seksual.
Lebih jauh, alumni Universitas Negeri Malang ini menambahkan bahwa banyak pelaku terjerat dalam masalah serius seperti narkoba, judi online, dan minuman keras. Mereka juga kerap gagal mengendalikan emosi, mudah marah, dan tidak memiliki keterampilan hidup yang memadai. Tak jarang, pelaku tidak memiliki pekerjaan tetap dan menjadikan seks sebagai bahan candaan yang tidak pantas. Bahkan, sebagian meyakini pemikiran keliru bahwa anak-anak bisa “meminta” untuk diperkosa.
“Beberapa pelaku memiliki riwayat kriminal atau pernah dihukum karena kasus pelecehan seksual,” ujarnya.
Lantas, strategi pencegahan seperti apa yang dapat dilakukan agar anak tidak menjadi korban?
“Seburuk apapun kondisi di luar sana, penting bagi orang tua untuk membangun pengasuhan yang bersahabat. Perkuat anak dengan komunikasi yang terbuka, ciptakan hubungan penuh kepercayaan antara orang tua dan anak. Itu adalah kunci agar anak mampu melindungi dirinya sendiri,” tegas Mamiq Yul.























