Ketua Umum Simposium Pemuda Tanak Awu, Hongki Candra Saputra.(Foto: Dok. Istimewa)
LOMBOK TENGAH, ERANTB.COM – Simposium Pemuda Tanak Awu sukses menggelar agenda perdana diskusi kepemudaan pada 9 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Spirit Pemuda Mengambil Peran Perubahan dalam Momentum 81 Tahun Kemerdekaan.”
Diskusi berlangsung dalam suasana santai. Namun, pembahasan yang disampaikan cukup serius, terutama terkait posisi dan peran pemuda dalam mendorong perubahan di Desa Tanak Awu.
Agenda yang digelar pada bulan kemerdekaan tersebut menjadi ruang bagi pemuda untuk merefleksikan kembali sejarah perjuangan bangsa.
Selain itu, peserta juga membahas berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, khususnya di tingkat desa.
Ketua Umum Simposium Pemuda Tanak Awu, Hongki Candra Saputra, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan membangkitkan kesadaran pemuda agar tidak hanya menjadi penonton dalam proses perubahan.
Menurut Hongki, momentum kemerdekaan memiliki kaitan erat dengan keberanian pemuda dalam sejarah perjuangan bangsa.
Ia mencontohkan peristiwa Rengasdengklok sebagai salah satu momentum yang menunjukkan keberanian pemuda dalam mengambil sikap.
“Semangat Rengasdengklok bukan hanya tentang sejarah. Lebih dari itu, ada keberanian generasi muda untuk mengambil tanggung jawab terhadap masa depan,” ujar Hongki.
Menurutnya, semangat tersebut perlu menjadi inspirasi bagi pemuda Tanak Awu saat ini.
Pemuda, kata dia, harus mulai melihat berbagai persoalan di desa sebagai ruang untuk berkontribusi.
Sementara itu, Kemas Azsazaji, S.H. , yang menjadi pemateri dalam diskusi, menekankan pentingnya menjaga ruang-ruang diskusi kepemudaan.
Menurut Kemas, forum seperti Simposium Pemuda Tanak Awu dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk bertukar gagasan.
Selain itu, diskusi juga dapat membantu pemuda membangun kesadaran kritis dan memahami berbagai persoalan di lingkungan mereka.
Namun, Kemas mengingatkan agar pemuda tidak berhenti pada wacana.
Menurutnya, gagasan yang lahir dari ruang diskusi harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pemuda harus berani tampil dan mengambil peran. Jangan hanya menjadi penonton dari setiap perubahan yang terjadi,” tegasnya.
Di akhir kegiatan, Hongki Candra Saputra menyampaikan bahwa agenda perdana tersebut bukan menjadi akhir dari gerakan kepemudaan di Tanak Awu.
Sebaliknya, kegiatan tersebut menjadi langkah awal untuk membangun ruang diskusi pemuda yang lebih berkelanjutan.
Hongki memastikan Simposium Pemuda Tanak Awu akan kembali menggelar agenda lanjutan melalui Simposium Pemuda Tanak Awu Jilid II.
Diskusi kemudian ditutup dengan komitmen bersama pemuda Tanak Awu untuk mengambil peran dalam kemajuan dan pembangunan desa.
Momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi perayaan seremonial.
Bagi pemuda Tanak Awu, semangat kemerdekaan harus diwujudkan melalui keberanian untuk berpikir, bersuara, bergerak, dan mengambil peran dalam perubahan.
























