Menu

Mode Gelap

Lombok Tengah · 15 Agu 2026 16:21 WITA ·

Viral di Sosmed! Wisatawan Lokal Bongkar Kejanggalan Retribusi hingga Karcis Masuk Wisata Bukit Lombok Tengah


 Viral di Sosmed! Wisatawan Lokal Bongkar Kejanggalan Retribusi hingga Karcis Masuk Wisata Bukit Lombok Tengah Perbesar

Sumber : Threads @Faricayo


LOMBOK TENGAH, ERANTB.COM – Pengalaman seorang wisatawan di kawasan Bukit Seger, Lombok Tengah, menjadi sorotan setelah muncul dugaan pungutan yang dipertanyakan melalui media sosial.

Melalui akun Threads @faricayo, seorang wisatawan menyoroti pungutan yang diterimanya saat berada di kawasan tersebut.

Dalam video yang beredar, wisatawan memperlihatkan tiket yang diterimanya. Pada bagian atas tiket tercantum nama Kelompok Sadar Wisata Setia Jati, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Dalam videonya, wisatawan itu mengaku awalnya diminta membayar Rp10 ribu saat berada di area parkir. Namun, ia kemudian menemukan keterangan berbeda pada tiket yang diterimanya. “Gue di sini nggak happy guys. Waktu saya di parkiran, saya diminta Rp10 ribu buat parkir. Ternyata setelah saya lihat tiketnya, tulisannya retribusi masuk Festival Bau Nyale tahun sekian. Ternyata ini bukan tiket untuk parkir motor,” ujarnya.

Persoalan tersebut tidak berhenti di area parkir. Setelah naik ke kawasan bukit, wisatawan itu mengaku kembali didatangi dan diminta membayar Rp10 ribu. Ia kemudian memprotes karena merasa sudah melakukan pembayaran sebelumnya. Setelah terjadi tawar-menawar, ia akhirnya membayar Rp5 ribu dan meminta tiket sebagai bukti pembayaran.

Namun, ia kembali menemukan hal yang menurutnya janggal. “Kemudian gue minta tiketnya dan ternyata di tiketnya ditulis Rp2.500,” katanya.

Perbedaan antara nominal yang diminta dengan nominal yang tercantum pada tiket itulah yang kemudian membuat wisatawan tersebut mempertanyakan mekanisme pungutan di kawasan Bukit Merese. Menurutnya, persoalannya bukan terletak pada nominal uang yang harus dikeluarkan, tetapi pada ketidaksesuaian antara pembayaran dan tiket yang diterima.

“Punglinya nggak kira-kira guys. Sebenarnya bukan soal harganya. Mau Rp50 ribu sekalipun nggak apa-apa, ini worth it banget karena Bukit Merese ini bagus banget,” katanya.

Namun, ia menilai wisatawan seharusnya mendapatkan kejelasan atas setiap pungutan yang dikenakan. “Tapi ini namanya pemerasan guys, karena tiketnya tidak sesuai sama yang mereka minta guys,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan karena menyangkut transparansi pungutan di salah satu destinasi wisata yang menjadi bagian dari daya tarik pariwisata Lombok Tengah. Jika wisatawan diminta membayar sejumlah uang, kejelasan mengenai jenis pungutan, tarif, serta pihak yang mengelola menjadi hal penting agar tidak menimbulkan persepsi negatif.

Wisatawan tersebut juga menyoroti kondisi kebersihan kawasan wisata. Ia meminta pemerintah turun tangan untuk membenahi pengelolaan destinasi Bukit Merese, terutama persoalan sampah yang menurutnya masih berserakan.

“Ini Lombok, dan gue berharap pemerintah untuk turun tangan membenahi wisata Merese ini. Minta uang boleh, tapi lu kerja lah. Lihat sampah berserakan di mana,” tegasnya.

Ia menyayangkan kondisi tersebut karena Bukit Merese memiliki panorama yang menurutnya sangat indah dan berpotensi menjadi destinasi wisata unggulan. “Sayang banget guys, wisata seindah ini lu beresinlah sampahnya. Gue sedih sih,” ujarnya.

Sorotan wisatawan tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai uang Rp10 ribu atau Rp5 ribu. Ada persoalan yang lebih besar, yakni transparansi pungutan dan kualitas pelayanan di destinasi wisata.

Sebab, ketika wisatawan membayar, mereka tentu berharap mendapatkan pelayanan yang sepadan, lingkungan yang bersih, serta informasi yang jelas mengenai setiap biaya yang dikenakan.

Hingga berita ini ditulis, tudingan wisatawan tersebut masih merupakan pernyataan pribadi yang disampaikan melalui media sosial. Belum ada klarifikasi dari pihak pengelola, pemerintah desa, maupun pemerintah daerah mengenai mekanisme pungutan yang dipersoalkan tersebut.

Publik kini menunggu penjelasan mengenai siapa yang menetapkan pungutan, ke mana uang tersebut disetorkan, mengapa nominal pada tiket berbeda dengan pembayaran yang diminta, serta bagaimana pengelolaan kebersihan di kawasan Bukit Merese.

Persoalan ini menjadi penting untuk segera dijelaskan agar keluhan wisatawan tidak berkembang menjadi persepsi buruk terhadap wajah pariwisata Lombok Tengah.

Karena pada akhirnya, wisatawan tidak hanya membeli tiket atau membayar retribusi. Mereka juga membeli pengalaman. Dan pengalaman buruk di satu destinasi bisa menjadi cerita panjang yang memengaruhi citra pariwisata Lombok.

 

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Jelang Hut RI, Pemkot Mataram Larang Gerak Jalan Banci hingga Main Bola Pakai Daster

15 Agustus 2026 - 16:45 WITA

Tanam 500 Pohon, Wabup Bima Ajak Masyarakat Jaga Alam Bersama

14 Agustus 2026 - 23:40 WITA

KAMMI Lobar Apresiasi Keterbukaan Wabup Una, Dorong Kolaborasi Pemuda dalam Pembangunan

13 Agustus 2026 - 22:06 WITA

Soroti Anggaran Gelondongan Rp163 Miliar, FPT Laporkan Pengadaan Tanah APBD-P KSB ke Polisi

13 Agustus 2026 - 19:11 WITA

Menerima Kunjungan Reses Komisi VII DPR RI, Pemprov NTB Perkuat Sinergi Hilirisasi dan Pariwisata

13 Agustus 2026 - 01:39 WITA

Proyek Jalan Senayan–Lamusung Rp28 Miliar Dilaporkan ke Polres KSB, FPT Soroti Tata Ruang dan Anggaran

13 Agustus 2026 - 01:14 WITA

Trending di Hukum & Kriminal